Minggu, 13 April 2014

7 Perkataan Agung Kristus dikayu Salib, Ryan F.

Sepanjang sejarah dalam kehidupan manusia, Kekristenan selalu ingin dihapuskan dari muka bumi yang diciptakan Tuhan ini. Banyak cara mereka mencoba mendobrak Kekristenan untuk menuju kepada kebinasaan namun tak dapat. Sebelum Kekristenan berdiri maka pemimpinnya harus dibunuh dan mati, pemimpinnya mengalami siksaan yang ganas. Siapakah pemimpinnya itu? Tidak lain yaitu Yesus Kristus. Sebelum orang Kristen hidup dalam tekanan yang kejam dan ganas, maka pemimpinnya terlebih dahulu harus mengalami penyiksanaan dan penganiayaan, sebelum orang Kristen dianiaya dan di fitnah, maka pemimpinnya terlebih dahulu ditutup muka-Nya, diludahi wajah-Nya, dihakimi oleh dunia. Dunia yang tidak adil harus menghakimi Dia yang sumber dari keadilan yang sejati. Sebelum orang Kristen mati menjadi martir, maka yang pertamakali mati adalah Yesus Kristus pemimpin besar yang agung dalam sejarah Kekristenan sebelum Kekristenan lahir. Mereka yang hidup pada zaman-Nya waktu itu mungkin mengalami keputusasaan, sebab pemimpin mereka yang besar mati tergantung dikayu salib. Banyak mereka yang meninggalkan Dia lalu kembali kepada Dia, banyak orang yang mencoba mengikut-Nya banyak juga orang yang ingin membunuh-Nya hingga akhirnya Ia harus mengalami ketidakadilan dari dunia yang tidak adil. Firman yang berseru-seru dipinggir-pinggir jalan kini diam, firman yang berteriak diatas perahu dan kapal kini mulai diam sunyi dan tak berbicara, firman yang tadinya keluar dari mulut-Nya dengan memanggil orang untuk kembali kepada Allah kini tidak terdengar lagi. Saat Yesus Kristus berada didepan Pilatus dan para imam ahli Taurat serta orang Farisi lainnya Ia tidak berbicara banyak, saat didepan Herodes pula sama sekali Ia tidak berbicara. Mengapakah saat itu Yesus Kristus Sang Juruselamat Dunia tidak lagi berbicara dan berfirman? Ini adalah salah satu sifat Allah, ketika Ia melihat manusia mencoba dan berusaha melampaui keberadaan-Nya maka Allah akan diam. Yesus Allah? Dia Allah, Pilatus sempat bertanya “apakah Engkau Anak Allah? jawab Yesus: engkau sendiri yang mengatakannya. Saat-saatnya tiba Yesus mulai dibawa kepada satu bukit yang sangat mengerikan, bukit itu ganas dan kejam, bukit tengkorak adalah julukannya, mengapa disebut bukit tengkorak? Karena setiap kali orang melihat bukit itu banyak lobang-lobang besar dan permukaannya serta gambar bukit itu sering menyerupai tengkorak. Dalam perjalanan yang melelahkan, Ia harus berjalan sepanjang jalan dimana banyak orang melihar Dia. Tadinya Ia berkata diri-Nya Raja kini ditawan dan pukul serta dicambuk, dipermalukan oleh manusia, dan ditelanjangi tubuh-Nya, mereka membagikan jubah-Nya dan mereka membuang undi. Alkitab memberitahukan kepada kita Yesus tidak berteriak saat paku pertama ditancapkan ketangan-Nya, Ia tidak marah dan mengutuki siapa-siapa saja yang menyiksa dan menista Dia. Inilah teladan Juruselamat kita yang paling agung didalam sejarah. Saat semua sudah dipakukan, maka salib mulai ditancapkan kedalam lubang tanah dan berdiri menghadap kepada orang banyak. Yesus tentu merasakan sakit, Dia sama seperti kita manusia, hanya Ia tidak berdosa, Ia bisa sakit, Ia pernah lapar, Ia pernah haus, Ia pernah bahagia, Ia pernah terluka, dan Ia juga pernah menderita. Tuhan yang kita sembah, bukan Tuhan yang tidak dapat merasakan penderitaan yang kita alami, sebelum kita mengalaminya Ia sudah mengalaminya. Saat Allah marah dengan nyala api yang membara untuk manusia, maka Yesus (Allah Anak) mengambil keputusan bahwa Ia mau menggantikan manusia berdosa. Saat dikayu salib, Alkitab tidak mengatakan Yesus mengutuki orang yang memaku Dia, Yesus tidak marah kepada mereka, Yesus tidak dendam kepada mereka, Yesus tidak meminta kepada Bapa agar mereka musnah. Melainkan ada satu firman yang keluar dari mulut Sang Juruselamat yang Agung dan mulia, kalimat yang manis, doa yang indah disepanjang sejarah para nabi, kalimat itu keluar dengan penuh manisnya sehingga membawa damai sejahtera bagi setiap hati manusia. Kalimat itu berbunyi demikian untuk yang pertama kalinya “ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Tadinya saat berada dikayu salib, orang banyak yang ada menyaksikan Dia telah menantikan seruan dari Yesus apakah Ia akan menyelamat diri-Nya dengan berseru kepada Bapa, apakah Ia dapat turun dengan mujizat-Nya? Ternyata Yesus Kristus yang mereka harapkan tidak berkata apa yang mereka inginkan, melainkan apa yang di inginkan Yesus untuk mereka dengan berkata Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Inilah doa yang paling manis, Doa Yesus kepada Bapa, agar Bapa tidak melampiaskan murka-Nya keatas manusia, melainkan untuk Dia yang adalah Anak Allah. sambil menunggu Dia berkata-kata lagi, mereka kembali mengutuk Dia, memfitnah Dia, meninggalkan Dia dan mencaci maki Dia. Kita dapat bayangkan bila anda seorang diri sebagai ayah mendengar anak anda dihina dan dianiaya oleh orang lain yang tidak berhak menghukum dia, mungkin anda akan membunuh mereka yang membuat ia menderita. Tetapi Bapa tidak, setelah Bapa mendengar ucapan Yesus yang pertama dikayu salib “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” maka Bapa mengerti betapa dalam-Nya kasih Kristus terhadap manusia. Dimanakah cinta kasih yang sejati? Yiatu didalam Kristus Yesus. Perkataan kedua ialah “Amin, Aku berkata kepadamu, hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus”, perkataan yang ketiga “Ibu, ini anakmu... ini ibumu”, perkataan yang keempat “Allah-Ku-Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, perkataan yang kelima ialah “Aku haus”, perkataan yang keenam ialah “Sudah genap” dan perkataan yang ketujuh ialah “Bapa, kedalam tangan-Mu, Ku-serahkan Nyawa-Ku.”

Banyak pemuda-pemudi meninggalkan Kristus dan banyak yang tidak mau melayani lagi dalam segala kegiatan didalam Gereja, mengapa? Karena tidak pernah memiliki suatu penghayatan yang sejati dan merenungkan serta memahami arti penderitaan serta pengorbanan yang begitu besar dilakukan Yesus Kristus dikayu Salib. Mereka tidak adanya bedanya dengan apa yang dikatakan Paulus “mereka sengaja berperilaku seperti orang yang  mengenal Allah, padahal mereka tidak mengenal Allah. pemuda-pemudi gereja yang bertahan setia sampai hari ini dalam gereja dan lingkungan gereja dan yang masih mau dididik oleh Tuhan berbahagialah, sebab jerih payahmu tidak sia-sia. Tapi celakalah bila engkau melayani Tuhan dengan hati yang hampa tanpa ada Roh Tuhan didalam hatimu, maksudnya ialah seperti orang-orang yang melayani Allah tapi tidak mengerti Allah. saat ditanya siapakah Allah? jawabannya apa? Bingung. Mengapa bingung? Karena tidak suka mendengarkan firman Tuhan saat pendeta sedang menyampaikan firman yang mencerahkan hati sanubarimu. Sudahkah? Engkau mengenal Allah? hei para muda-mudi, pikirmu engkau baik selama ini? Cintakah engkau kepada Tuhanmu Yesus Kristus? Apakah kasihmu besar kepada-Nya? Masihkan cinta kasihmu kepada-Nya tetap adalah kasih yang mula-mula? Atau apakah kasihmu sudah berkurang? Saat kasihmu berkurang maka engkau mulai jauh dari kehidupan gereja, disitulah saatnya iblis datang menelan jiwamu. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Senin, 07 April 2014

Pernikahan Yang Sejati, Ryan Frinandoe.

Salah satu tujuan akhir setelah melewati masa berpacaran, manusia harus berpikir “sudah saatnya saya menikah” tapi saya bertanya, siapkah manusia menuju kepada pernikahan? Jika ya sudahkah memikirkan apa tujuan hidup itu menikah? Apa yang menjadi motivasi mengapa harus menikah?

            Banyak fakta dipanggung dunia dalam dunia pernikahan hancur, banyak juga yang menjalin bahagia. Sebab cara manusia masing-masing berbeda menjalaninya. Saya memberitahukan kepada kamu bahwa menuju kepada pernikahan bukan sesuatu sikap dan tindakan serta keputusan yang main-main, sebelum pernikahan dijalani, maka berpikir dengan rasio untuk bertanya dalam hati sanubari, “sudah siapkah saya menikah?” mengapa saya berkata pernikahan bukan suatu tindakan dan keputusan yang main-main? Sebab dalam pernikahan ada satu janji yang mengikat yang tidak boleh diputuskan oleh manusia, yang tidak boleh di pisahkan oleh manusia. Jika manusia melakukannya maka manusia mengingkari perjanjian pernikahan. Pernikahan yang ingin dicapai manusia adalah kehidupan pernikahan yang bahagia, tidak ada lain. Dalam pernikahan versi Kekristenan pada waktu pendeta bertanya “manusia apakah engkau siap bersedia membahagiakan pasanganmu baik waktu senang dan sedih, baik sehat dan saat sakit engkau akan merawatnya? Apa jawab manusia itu “ya saya bersedia, dan saya akan mengasihinya serta membahagiakannya dan merawatnya baik saat sehat dan sakit.” Janji ini bisa dipenuhi ketika masuk dalam pernikahan, jika selama hidup dalam pernikahan janji ini tidak dijalani, maka akhirnya pernikahan itu rusak. Dimanakah pernikahan yang sejati? Pernikahan yang sejati itu ada dan hadir ketika manusia menaklukkan dirinya kepada kebenaran Allah, takluk kepada perintah dari Allah dan menerima dengan rendah hati setiap mandat dari Tuhan Allah. pernikahan yang sejati adalah pernikahan yang diberkati oleh Tuhan, pernikahan yang sejati adalah seperti Allah memelihara manusia untuk hidup dalam kebahagiaan sejati, maka pernikahan yang sejati tidak mungkin akan goyah saat goncangan dari luar datang bahkan dari dalam. Pernikahan dalam konteks Kekristenan adalah pernikahan yang menaruh seluruhnya dan seluruhnya dalam ketundukan kepada Allah. Bagaimanakah pernikahan yang sejati? Pernikahan yang sejati muncul saat manusia tetap setia kepada pasangannya, sebagaimana Allah setia kepada manusia. Pernikahan dilihat oleh Tuhan, pernikahan juga dipelihara Tuhan agar menjadi kebahagiaan yang indah serta harmonis. Ada satu unsur yang melengkapi dalam menjalani kebahagiaan yang sejati yaitu kesetiaan. Kesetiaan kepada janji pernikahan, maka disinilah manusia dituntut untuk tetap menjadi pasangan yang setia dan penuh kasih sayang. Ada satu unsur terutama yang paling tertinggi dalam segala aspek moral hidup manusia serta kebudayaan yang dapat bersatu meskipun ada perbeadaan, yaitu unsur menaruh seluruh perjalanan hidup dalam kehendak Tuhan. Pernikahan sejati adalah pernikahan yang membara menyalakan obor api semangat untuk memenuhi janji kesetiaan kepada satu pasangan. Henri Ward Beecher berkata “cinta yang masih baru adalah bagaikan sebuah api” tetapi saya berkata cinta dalam pernikahan yang sejati adalah cinta yang terpelihara sampai kepada titik nafas hidup selesai. Inilah pernikahan yang sejati. Tuhan Yesus memberkati. 

Minggu, 06 April 2014

MANUSIA MULIA & MANUSIA BERDOSA, Ryan Frinandoe



A.   Status Manusia Mulia.
Dalam bab pertama kita sudah membahas tentang manusia yang adalah peta dan teladan Allah. Dalam status itu manusia sedang berada pada tahap yang paling tinggi dan sedemikian indah serta mulia adanya, sebab manusia adalah bersih, suci, kudus, mulia dan penuh dengan bahagia serta relasi yang begitu dekat dengan Tuhan Allah. Keberadaan manusia didalam status mulia, manusia memiliki cinta kasih kepada Allah, setiap hari Allah mengajar manusia, setiap hari Allah berjalan dengan manusia, setiap hari Allah mengetahui kedalam hati manusia. Status mulia ini adalah status yang didalamnya manusia memiliki potensi melebihi potensi mahkluk lainnya.
Status manusia yang mulia juga mempunyai unsur teladan Allah, kehadiran diri Allah, kemiripan dengan Tuhan Allah, memiliki beberapa sifat yang dapat saya simpulkan didalam bab pertama yaitu manusia memiliki sifat cinta kasih, keadilan dan kebenaran. Status ini tidak dimiliki oleh mahkluk lainnya, melainkan hanya manusia. Apakah manusia dalam status ini memiliki kebudayaan? Ada, kebudayaan itu murni dan sejati adanya. Kebudayaan itu dilihat dari tindakan manusia dalam kesehariannya berinteraksi kepada Tuhan Allah, dirinya sendiri, sesamanya dan dengan alam semesta serta mahkluk lainnya baik yang diatas dan yang dibawah. Saat Adam dan Hawa di Taman Eden, saya membayangkan mereka menjalin hubungan cinta kasih yang begitu indah, baik cinta kasih kepada Tuhan Allah dan kepada keduanya sama-sama saling memiliki cinta kasih. Maka status manusia yang mulia itu adalah status yang bersih tanpa cela.

B.   Manusia dan Iman.
Apa maksud Allah mewahyukan iman kepada setiap manusia? Jawabannya ialah agar manusia memiliki suatu keyakinan yang mutlak. Membicarakan tentang iman adalah membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan Allah juga. Iman itu tidak akan ada jikalau Allah tidak memberikannya kepada manusia, iman seperti apa yang Tuhan berikan pertamakali kepada manusia? Iman kepercayaan kepada Tuhan Allah bahwa Tuhan Allah itu ada. Stephen Tong mengatakan “iman adalah suatu pengarahan rohani kepada Tuhan kembali.”[1]Kaitan manusia dengan iman tidak boleh dilepas, setiap manusia sudah diberikan iman, iman yang sejati adalah iman dimana manusia sungguh-sungguh berpegang pada keyakinannya bahwa Tuhan adalah oknum tertinggi dan paling mulia dari dirinya. Suatu agama yang dibangun atas doktrin tidak dapat disebut agama bila agama tersebut tidak membicarakan iman. Iman merupakan keyakinan dimana Allah bereksistensi diatas ruang yang melampui akal perasaan manusia, inilah iman. Sejak manusia masih dalam status mulia iman yang ada dalam diri manusia itu iman yang sejati dan murni adanya, maka manusia tidak boleh melepaskan unsur mutlak ini dari dalam dirinya.

C.   Manusia dan Rasio.
Dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia kita telah melihat perjalanan hidup manusia yang disebut mahkluk rasio. Manusia bukan saja manusia yang mulia didalam statusnya melainkan manusia merupakan mahkluk yang berpikir dengan menggunakan rasionya. Inilah bedanya manusia dengan binatang. Stephen Tong mengatakan didalam bukunya “teori evolusi berusaha mencari persamaan antara manusia dan binatang. Teologi justru berusaha menyatakan perbedaan antara manusia dan binatang. Alkitab telah memberikan pengertian tentang diri manusia yang sedemikian tuntas dan jelas, sehingga hak asasi manusia akan dihargai, jika manusia betul-betul mengerti. Manusia adalah manusia, binatang adalah binatang.”[2] Manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan berintelektual ini adalah manusia yang mampu membedakan segala sesuatu tentang dirinya dengan mahkluk lain. Dalam pemikiran Mencius (371-288), ia memiliki suatu gaya corak pikiran mengenai manusia ia mengatakan “semua orang berpikir secara mendalam pasti memikirkan apakah dan siapakah sebenarnya manusia itu” ketika saya meneliti sejarah pandangan Mencius ini saya menyadari bahwa dari sejak zaman dahulu kala, baik kebudayaan Barat dan Timur sudah berusaha merumuskan perbedaan antara manusia dan binatang dengan semua mahkluk lain. Oleh karena itu, didalam kebudayaan Timur Mencius sebagai penerus Konfusius (551-479), menegaskan bahwa manusia berbeda dari binatang karena manusia memiliki hati nurani dan pikiran (rasio). Manusia memiliki rasio, bintang memiliki insting.
            Setelah membahas ketiga hal diatas dimana manusia sebagai manusia yang memiliki status mulia, kini saya akan membahas keberadaan status manusia didalam keberdosaan.

D.   Status Manusia Berdosa.
Dalam status yang tadinya mulia dan indah serta relasi yang baik dengan Tuhan Allah yang segala sesuatunya itu baik adanya, kini akhirnya manusia terjerumus kedalam pengajaran setan yang membawa manusia itu jatuh kedalam dosa. Status yang tadinya mulia kini menjadi rusak dan manusia kehilangan status sebagai mahkluk yang mulia lagi, namun tidak mengurangi keberadaan dirinya dalam status sebagai peta dan teladan Allah. Kerusakan yang terjadi mencakup banyak aspek dan nilai-nilai moralitas serta kebudayaan manusia.


E.   Status yang Rusak.
Dalam status yang berdosa ini maka saya menggunakan status yang rusak didalam diri manusia, sebab ketika manusia mengalami kejatuhan manusia bukan saja merusak diri, melainkan merusak seluruh sistem nilai kemanusiaannya dihadapan Tuhan Allah. Dalam status yang rusak itulah manusia mulai menyimpang dari kebenaran yang sejati. Kebenaran yang sejati tidak ada lagi didalam diri sebab kebenaran sejati itu sudah rusak dan mengalami distorsi dosa. Suatu hari saya merasa diri saya sudah mandi, setelah mandi saya merasa bersih, tapi ketika saya mulai membersihkan parit maka semua anggota tubuh saya dan saya terserang penyakit, maka inilah namanya rusak kebersihan saya dan mengalami pencemaran lingkungan dalam diri saya, akhirnya saya kena penyakit. Maka saya rusak. Ketika status itu rusak, maka akhirnya inilah sebagai contoh bagi kita sebagai manusia yang telah mengalami status rusak. John Calvin mengatakan “manusia yang telah berdosa telag mengalami kerusakan total”[3] dengan istilah tersebut ia menggambarkan bahwa manusia itu sangat rusak sekali, dalam keadaan status rusak maka manusia merusak hubungan dia sendiri dengan Tuhan Allah.
F.    Kebudayaan dan Agama.
Munculnya kebudayaan ketika manusia membiasakan diri hidup bergaul dengan Tuhan Allah dan alam. Tetapi kita telah melihat kerusakan status akibat dari dosa ternyata merusak sistem kebudayaan manusia antara Allah dan dengan alam juga. Tadinya kebudayaan itu baik, dan sistem perjalanan dari budaya kepada kebudayaan itu baik serta teratur, namun kini telah rusak. Manusia merusak, manusia melawan perintah dari Sang Pencipta. Akibat kerusakan itu maka manusia mulai takut kepada Tuhan Allah dan akhirnya bersembunyi, maka Tuhan datang mencari manusia yang berdosa itu untuk meminta pertanggungjawaban, tetapi mereka tidak bisa, maka Allah mendatangkan kutuk yang sampai hari ini dijalani oleh manusia. Kebudayaan yang telah rusak maka akhirnya manusia berusaha mencari Tuhan Allah dengan bermacam cara untuk mengembalikan hubungan itu kembali, maka manusia menciptakan agama. Pikir manusia dengan adanya agama maka manusia bisa bertemu dengan Tuhan Allah. namun sepanjang sejarah kita telah melihat keadaan manusia yang hidup beragama nyatanya tetap tidak bisa menemukan Tuhan Allah dengan cara itu. Maka akhirnya tidak ada cara lain, sesuai dengan janji-Nya Tuhan Allah (Kej. 3:15), maka Allah mendatangkan Kristus. Dalam Kristus itu Allah sendiri yang datang untuk menjelma menjadi manusia agar manusia bisa bertemu dengan Tuhan Allah. Barangsiapa percaya kepada Kristus maka ia akan bertemu dengan Yesus dan diselamatkan.



[1] Pdt. Dr. Stephen Tong, 2013,  Iman Pengharapan & Kasih dalam Krisis, STEMI, Momentum:Surabaya, hlm 3.
[2] Pdt. Dr. Stephen Tong, 2013, Iman, Rasio & Kebenaran, STEMI, Momentum: Surabaya, Hlm 6.
[3] Pdt. Jenus Junimen, 2013, Dogmatika II, AT-APT: Jakarta.

Selasa, 01 April 2014

MANUSIA & PENDERITAAN, Ryan Frinandoe


A.   Pengertian Penderitaan.
Affliction (penderitaan, kesusahan, kemalangan, dan derita) kata penderitaan yang merupakan kata yang mengandung gambaran keadaan diri manusia ketika mengalami masalah yang cukup berat didalam dirinya, sehingga kata penderitaan mempengaruhi diri manusia untuk masuk kedalam suatu lembah yang suram, penuh dengan sengsara untuk mencari pertolongan dan belas kasihan. Penderitaan adalah derita, susah, malang. Apakah menderita itu bahagia? Apakah bahagia itu menderita? Kita telah melihat keadaan manusia disepanjang sejarah kehidupan, kita juga telah melihat keberadaan hidup yang menderita tidak ada henti-hentinya untuk manusia menjalaninya. Dengan kata ini dan pengertiannya kita mendapat suatu gambaran dan beberapa pertanyaan yang menjadi fokus dari isi bab ini, sebab itulah kata itu adalah penderitaan.

B.   Permulaan Penderitaan.
Permulaan penderitaan datang bukan disaat zaman Kaisar, Hilter, Nicci, abad 16, abad 21 sekarang, bukan. Tetapi permulaan penderitaan datang yaitu disaat Allah menjatuhkan hukuman serta kutuk kepada binatang (ular), manusia dan bumi. Binatang yang pertamakali mendapat kutukan adalah ular, Allah mengutuk dia untuk berjalan dengan perutnya. Kemudian manusia akan bersusah payah mencari rejekinya dengan sampai berpeluh/keringat banting tulang untuk bekerja, hal ini khusus untuk laki-laki. Kemudian yang kedua kepada perempuan, maka pada saat ia mengandung Tuhan membuat ia kesakitan untuk melahirkan dan bukan saja itu Tuhan memerintahkan manusia harus beranakcucu. Maka disinilah kita melihat permulaan penderitaan yang datang, semua keadaan macam begini adalah cara Allah agar manusia bertanggung jawab atas kelakuannya yang telah melawan Tuhan Allah. melawan Tuhan bukan dalam arti marah, jengkel, tetapi dimana manusia tidak taat dan setia kepada firman-Nya maka disitulah letak perlawanan manusia kepada Tuhan. Penderitaan selanjutnya dialami oleh anak dari Adam dan Hawa yaitu Kain dan Habel, Habel mengalami penderitaan saat disiksa kakanya sampai mati, akibat dari penderitaan itu sampai-sampai Alkitab mencatat dengan jelas bahwa darah Habel berteriak sampai di Tuhan. Maka Kain menerima penderitaan didalam batin ia sendiri, ia harus ketakutan yang luar biasa, kalau-kalau Tuhan juga membunuh dia, tetapi tidak demikian, karena permintaannya Allah mau memberi tanda kepada dia agar ia tidak dibunuh. Meskipun ia tidak mati ditangan manusia, maka keturunannya lenyap sampai hari ini tidak berlanjut lagi, akibat kejahatan Kain, maka keturunannya lenyap karena mengalami penderitaan. Sejak kapankah letak permulaan penderitaan itu datang? Yaitu disaat manusia mengalami kejatuhan dan kerusakan status.
C.   Tujuan Hidup Manusia.
Sepanjang sejarah umat manusia dimuka bumi ini, kalau ditanya apakah tujuan mu hidup? Pasti jawabannya tidak lain dan tidak bukan pasti mencapai tujuan hidup bahagia. Kalau ditanya lagi apakah yang kamu inginkan didunia ini? Pasti jawabannya ingin hidup bahagia, kalau ditanya lagi mengapakah kamu tidak mau hidup menderita? Jawabannya pasti karena penderitaan itu bukan tujuan hidup, karena itu adalah sesuatu yang paling kutakutkan dalam hidup ini. Dalam khotbah saya, saya mengatakan “Penderitaan bukanlah tujuan akhir, kabahagiaan adalah tujuan akhir.” Kalimat ini merupakan kalimat yang tuntas dapat dimengerti oleh semua orang sebab memang benar bahwa tujuan hidup ini adalah mencapai bahagia. Dalam dunia filsafat, ada satu filsafat Epikurianisme yang berbunyi begini “tujuan hidup ini, kita harus mencari bahagia. Kalau tidak bahagia maka kita menderita, menderita bukan bahagia, dan bahagia bukan menderita.”[1] Filsafat ini baik adanya, namun banyak orang salah melaksanakannya, yang akhirnya filsafat ini tidak dapat dipakai lagi, meskipun tidak dipakai lagi tetapi prinsipnya banyak dilakukan manusia dengan kurang sadar bahwa dirinya menganut paham Epikurianisme. Maka disinilah kita melihat bahwa manusia berusaha menghilangkan penderitaan, karena penderitaan bukan tujuan hidup, melainkan kebahagiaanlah tujuan hidup.

D.   Penderitaan didalam Kebudayaan.
Apakah hubungan penderitaan dengan kebudayaan, sehingga ada penderitaan didalam kebudayaan. Sewaktu sebelum saya pergi ke sekolah Alkitab, saya setiap kali pulang sekolah ketika SMA harus pergi ke hutan mencari kayu bakar, setelah itu saya menyedap karet, sebab itu adalah salah satu mata pencaharian kami dalam hidup pada waktu itu. Saya dan orang tua harus berjuang untuk mencari rejeki agar bisa memenuhi kehidupan sehari, saya pribadi merasa menderita, mau tidak mau harus dilaksanakan, maka dibalik kebudayaan itu ada sesuatu yang tersembunyi yang dapat saya sadari yaitu penderitaan. Kebudayaan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari adalah gaya kehidupan setiap orang, yang didalam melaksanakannya manusia harus melalui suatu penderitaan dan menyikapi penderitaan itu dengan tenang meskipun kesusahan menghadapinya. Seorang petani menunggu hasil dari ladangnya, namun ketika kemarau datang maka ladangnya mengalami kekeringan, ia harus berjuang mendatangkan banyak air untuuk disalurkan keladangnya entah dengan berbagai cara ia harus mendatangkan air. Maka disinilah budaya itu terlihat dengan menggunakan akal budi, namun ada satu hal yang harus dilalui terlebih dahulu yaitu penderitaan. Jika tidak demikian maka petani itu menderita tidak makan hasil dari ladangnya, maka dalam penderitaannya ditambah lagi, akhirnya beratlah penderitaan itu. Ada satu seorang filsuf terkenal dengan filsafatnya yaitu Confusius, filsafatnya berbunyi “tujuan manusia menurut Konfusianisme adalah mencapai keharmonisan ataupun keseimbangan. Keharmonisan dengan alam dan juga keharmonisan dengan sesama manusia.”[2]

E.   Penderitaan Akibat Dosa.
Ketika seseorang mengalami penderitaan, pertanyaan yang keluar ialah “mengapa saya?, mengapa harus saya?, mengapa diri saya yang menderita penderitaan ini?,” Stephen Tong mengatakan “hal ini adalah perasaan yang sendiri, perasaan yang tidak seharusnya, perasaan kehilangan sesuatu, dan perasaan yang tersiksa, semua itu menjadi rangsangan kesadaran eksistensi setiap pribadi.”[3] Penderitaan macam ini perlu dipertanyakan mengapa penderitaan akibat dari dosa? Dosa adalah penyebab pertama adanya penderitaan, saat manusia menerima tawaran Iblis maka manusia akhirnya memiliki keberadaan seperti iblis yang suka melawan. Yang membuat manusia jatuh kedalam dosa adalah disaat manusia melawan perintah Tuhan Allah. Fakta pertama orang bisa jatuh kedalam dosa adalah saat ia mencoba melawan Tuhan dengan kelakuannya yang sombong dan kebohongan, satu lagi ialah ia tidak hendak TAAT kepada perintah Tuhan Allah. jikalau kita bertanya kepada orang lain “apakah engkau berdosa? Jawabnya ia saya berdosa” karena ia sadar bahwa ia berdosa maka kita juga sadar bahwa kita manusia berdosa, karena kita sama dengan dia. Penderitaan akibat dari dosa ini jelas, sebab penderitaan adalah hukuman yang Tuhan berikan kepada manusia yang memberontak.

F.    Penderitaan Bukan Akibat Dosa.
Bila kita mengingat peristiwa penggenapan janji penebusan dari Allah dengan mengirim Kristus kedalam dunia maka kita akan melihat dan sadar bahwa Yesus tidak berdosa mengapa ia harus menderita. Penderitaan yang Kristus alami bukan penderitaan yang biasa yang dirasakan manusia biasa seperti kita, tetapi penderitaan yang Dia alami adalah penderitaan yang sedemikian hebat dan dasyat. Bagi manusia itu adalah kabar Baik, tetapi bagi Kristus Dia harus menderita memikul dosa manusia ke atas tiang salib dengan tubuhnya, maka tubuhnya diremukkan sebagai wujud dari murka Allah kepada manusia yang ditimpakan kepada Dia. Bila kita mengingat peristiwa Ayub, Ayub dikenal seorang yang saleh dihadapan Tuhan Allah, dan ia berlaku benar di masa hidupnya. Penderitaan yang Tuhan ijinkan kepada Ayub adalah penderitaan yang lumayan hebat juga, namun penderitaan yang ia alami itu tidak membuat dirinya menjadi seorang Atheis, justru ia melihat penderitaan itu sebagai suatu tindakan Allah untuk melihat kesetiaannya sendiri. Namun kita melihat manusia zaman ini lebih banyak brengsek dan tidak berpegang kepada prinsip Alkitab Firman Tuhan Allah yang Hidup. Sedikit-sedikit penderitaan datang langsung mau meninggalkan Tuhan, mau menjadi Atheis, dan akhirnya menjadi murtad sampai mati dendam kepada Tuhan. Manusia yang macam begitu bukan manusia yang baik dan setia kepada Allah, manusia yang setia kepada Allah adalah manusia yang sadar dimana penderitaan itu datang bukan akibat dosanya tetapi karena Allah ingin menguji kekuatan imannya.

G.  Hakekat Penderitaan.
Jika saya bertanya: penderitaan itu sebenarnya ada atau tidak? Jika kita sebagai manusia merasa menderita, maka apakah itu berarti itu pasti ada penderitaan, ataukah ada penderitaan, maka baru manusia merasa menderita? Maka kita secara sadar menjawab dengan jujur “tentu, ada penderitaan, maka barulah kita merasakan penderitaan. Ada seorang anak kecil yang menangisnya luar biasa hampir 10 menit ia tidak berhenti menangis karena ia digigit nyamuk, dan ia gatal-gatal. Bagi anak itu, digigit nyamuk adalah penderitaan karena gatal-gatal. Tetapi bagi ayah itu bukan penderitaan, sebab sang ayah bukan saja mengerti penderitaan yang dialami oleh anaknya, tetapi ia juga tahu batasan penderitaan itu, ia tahu beberapa menit lagi penderitaan digigit nyamuk akan hilang dan tahu bahwa penderitaan itu tidak akan mendatangkan kematian. Jadi hakekat penderitaan itu adalah dimana kita mengerti akan batas-batas penderitaan lebih penting dari pada perasaan menderita. Stephen Tong mengatakan didalam bukunya begini “hakekat penderitaan itu ialah adanya perasaan kehilangan kenyamanan yang dulunya kita nikmati.”[4]

H.  Jenis-Jenis Penderitaan.
Ada tiga jenis penderitaan yang dimuat Stephen Tong didalam bukunya yaitu:
1.      Kecacatan Alamiah. Ada orang yang dilahirkan buta, tuli, bisa atau memiliki tangan kaki yang tidak sempurna. Ini merupakan penderitaan alamiah yang didapatkan seseorang ketika ia dilahirkan.
2.      Bencana Alam. Misalnya gunung meletus, air bah, tsunami, gempa bumi, longsor, tanah terbelah, dan akibat dari bencana alam maka bencana alam menghancurkan apa yang kita miliki.
3.      Bencana Perang. Yaitu meletusnya kebencian antara bangsa dengan bangsa, yang menimbulkan berbagai kekejaman di medan perang. Akibatnya, ada orang-orang yang terkena bom atau peluru sehingga cacat atau mati.
Tiga jenis penderitaan diatas adalah penderitaan yang besar terjadi didalam sejarah umat manusia menurut Stephen Tong.[5]



[1]Rian Frinandoe, 2013, Khotbah Reformasi Kekristenan, AT-APT: Jakarta. Saya memberikan beberapa penjelasan pandangan ilmu filsafat yang mempengaruhi hidup Kekristenan dari zaman ke zaman. Tapi kebahagiaan yang dimaksud oleh orang Epikurianisme bukan kebahagiaan yang sejati, melainkan kebahagiaan yang sementara. Kebahagiaan yang sejati dalam kehidupan Kekristenan adalah kebahagiaan yang kekal, itu hanya bisa didapatkan apabila manusia mau kembali kepada Tuhan Allah dengan sungguh-sungguh.
[2] Info Psikologi memberikan penjelasan kepada publik melalui situsnya mengenai ajaran Confusius, di post oleh Psychologymania, http://ajaranconfusionisme.com.
[3] Pdt. Stephen Tong, 2011, Iman Penderitaan dan Hak Asasi Manusia, Momentum: Surabaya, hlm. 36.
[4] Ibid, hlm. 52.
[5] Ibid, hlm. 60.

Yesus Kristus dan Yesus Barabas, (Markus 15:13-14). Ryan Frinandoe.

“Saya sudah bebas, saya sudah bebas, saya bebas” mungkin kalimat itulah yang ada dalam pikiran Barabas atau mungkin barangkali ia berteriak menyatakan dirinya telah bebas. Sejarah telah mengajarkan kita untuk mengetahui peristiwa ini, mengapakah harus Barabas, tidak adakah tahanan yang lain, mengapakah orang paling jahat harus dibebaskan dan Yesus yang tidak sedikitpun bersalah harus menerima penghakiman oleh manusia berdosa? Apakah ini keadilan? Hal ini bukan keadilan, melainkan kecurangan, hal ini dimata manusia. Bagaimanakah kita menulusurinya sampai kepada akarnya dari kisah ini? Mari kita akan berdoa dan bersyukur kepada Roh Kudus yang memperbolehkan kita mempelajari hal ini.
            Keberadaan Barabas sebagai penjahat adalah keberadaan dia sebagai penjahat yang paling kejam, dan dia banyak menyusahkan masyarakat, kelakuan dia yang tidak bermorallah yang membuat ia ditahan didalam penjara. Yesus dibawa kedepan Pilatus dan diperhadapkan dengan orang banyak, Ia tidak takut, sebab Ia tidak bersalah, bahkan Pilatus pun secara sadar bahwa Ia tidak bersalah, namun Pilatus lebih memihak kepada suara aspirasi rakyat Yahudi untuk membebaskan Barabas dan menghukum Yesus Kristus. Kebenaran Yesus pada waktu Ia berkata didalam rumah ibadat (sinagoge) “Roh Tuhan ada pada-Ku, Aku datang memberitahukan rahmat Tuhan telah datang untuk membebaskan orang yang tertawan...” kedatangan Yesus dihadapan Pilatus akhirnya membebaskan Barabas, kedatangan Yesus didepan Pilatus memberikan suatu cahaya cinta kasih yang sedemikian hebat. Yesus orang yang tidak berdosa harus membebaskan orang berdosa seperti Barabas. Disinilah bukti pertama bahwa ada orang pertama yang dibebaskan oleh kuasa kedatangan Kristus menjelang penghakiman atas Dia yaitu dengan dibebaskan oleh Barabas dari dalam penjara. Barabas adalah orang tawanan yang paling jahat. Alkitab tidak mencatat kelanjutan kehidupannya lagi setelah bebas. Mungkin ia bertanya-tanya mengapa saya bebas? Mengapakah saya harus bebas sedangkan Dia harus disalibkan? Saya berharap Barabas sadar dari dosanya dan kembali kepada Allah. Tidak ada orang yang dibebaskan dari penjara selain dari Barabas yang menikmati kebebasan pertamakali didalam Injil melalui persiapan penyaliban Yesus. Sebab dalam kitab PL belum ada penyataan tentang pembebasan satu orang diwaktu Paskah. Pilatus sengaja berdusta, dan ia sengaja membuat peraturannya bahwa ia sengaja mengatakan bahwa kebiasaan mereka untuk membebaskan satu orang dihari sabat. Apakah yang ada dalam hati Pilatus? Sebenarnya ia ingin membebaskan Yesus Kristus, dan ia sangat berharap rakyat Yahudi mengatakan “ya sudah bebaskan saja Yesus” tetapi hati rakyat tetap meminta Yesus harus dibunuh. Mengapakah harus Yesus yang dibunuh? Karena pikir mereka karena keberadaan Yesus akan menghapus sistem kebudayaan mereka dan menghapus hukum Taurat. Ketetapan/kebiasaan tidak ada tertera dalam kitab Taurat mengenai hari paskah ada pembebasan bagi seorang tawanan, hukum itu tidak ada, hukum itu hanya akal dari Pilatus saja yang ingin membebaskan Yesus Kristus namun usahanya gagal total, ia tidak bijaksana dan tidak mengerti baik-baik. Pilatus adalah seorang budak Kaisar, Pilatus mengetahui peraturan hukum Taurat, tetapi ia sengaja membuat peraturan baru. Barabas yang hina dan berdosa yang akan mengalami penghakiman kematian menjelang akhir penghukumannya kini telah digantikan oleh Yesus, inilah kuasa kedatangan Yesus. Barabas adalah orang pertama yang bebas dari penjara dalam masa kehidupan Tuhan Yesus. Tapi apakah Barabas bertobat setelah keluar dari penjara? Yesus menggantikan dia, Yesus mau menjadi tebusan bagi Dia. Seolah-olah bila diilustrasikan “anak-Ku biarlah Aku yang menggantikan penderitaanmu, bebaslah engkau dari penderitaanmu” seakan-akan beginilah kejadiannya. Tetapi kita tidak dapat menjadikannya suatu doktrin dan berani berkata Barabas telah bertobat, sebab Alkitab tidak mencatatnya dan menaruh kelanjutan dari hidupnya setelah dibebaskan. Maka kita hanya berkata “mungkin saja ia bertobat dan memulai hidupnya yang baru, atau barangkali ia hidup lagi didalam kejatahannya. Namun yang pasti Barabas ditukar dengan Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah nama dari Tuhan Yesus Kristus sendiri, Barabas memiliki nama lengkap Yesus Barabas, keduanya ada kemiripan nama awal. Namun kali ini Yesus Barabas bukanlah orang baik, tetapi Yesus Kristuslah orang yang paling baik dimasa hidup-Nya.

            Pengorbanan Yesus Kristus didalam sejarah bukanlah pengorbanan yang bersifat main-main, pengorbanan Yesus adalah pengorbanan yang sejati, maka disinilah kita melihat keadilan Allah untuk menepati janji-Nya didalam sejarah penebusan melalui Anak-Nya yang Ia kasihi dan kepada-Nya Ia berkenan. Yesus harus menanggung dosa manusia yang jahat, Yesus mau naik dengan darah yang mengucur sedemikian hebat, dengan kekuatan yang begitu dasyat untuk sampai membawa penderitaan manusia keatas kayu salib. Tadinya manusialah yang harus menanggung penghakiman murka Allah yang bernyala-nyala, namun Yesus Kristus mau mengambil keputusan agar Ia menjadi pendamai dari murka Allah terhadap manusia. Diperjalanan menuju golgota Ia harus tahu akan tiba saatnya penghakiman Allah dimulai atas diri-Nya yang didalam Dia segala dosa manusia telah dibawa-Nya ke golgota sehingga didalam murka Allah itu Ia meneriman penghakiman Allah. Semua ini dilakukan Yesus karena Ia mengasihi manusia berdosa, Allah tidak membenci manusia, tetapi Allah membenci dosanya. Sama seperti seorang ibu akan membersihkan kotoran dimuka anaknya, ia tidak mau muka anaknya kotor, maka dengan paksa ia harus membersihkannya karena ia sayang. Yesus Kristus disalib, dan Yesus Barabas harus dibebaskan oleh sebab kedatangan Yesus waktu itu mendatangkan sukacita baginya, ini adalah karya Kristus, dengan melihat wajah Yesus yang begitu sedih penuh dengan darah, Barabas dapat bebas, sebelum Yesus berada dikayu salib Barabas terlebih dahulu bebas dari penderitaan. Sekarang apakah saudara bahagia dengan kedatangan dan kehadiran Tuhan dalam hidup saudara? Jika ya, maka Roh Kudus sudah berbicara dan menghibur serta bekerja didalam hatimu. Amin.

Sifat Malaikat, Ryan Frinandoe.

Sifat Malaikat.
1.      Para malaikat disebut sebagai roh-roh yang melayani. Tidak berbadan jasmani, namun roh. Alkitab pernah mencatat bahwa mereka pernah memakai tubuh manusia (kej. 18-19, Luk. 1:26, Yoh. 20:12; Ibrani 13:2.
Kenyataan ini merupakan peristiwa khusus yang terjadi atas campur tangan “kuasa Tuhan” didalamnya. Adanya tubuh jasmani dalam penampakan malaikat tidak terlepas dari otoritas Tuhan yang mengijinkan hal itu dan dalam pengawasan-Nya sebagai pelaksanaan firman-Nya.
2.      Malaikat bukan manusia yang dimuliakan. Matius 22:30, manusia dikatakan akan menjadi seperti malaikat tetapi tidak akan menjadi malaikat. Alkitab mencatat lebih rendah sedikit dari malaikat, tetapi kemudian akan menjadi tinggi dari pada malaikat (Maz. 8:6; Ibrani 2:7) bahkan orang-orang percaya disebutkan oleh firman Tuhan suatu saat nanti akan menghakimi malaikat (1 Korintus 6:3). Malaikat tidak pernah akan dimuliakan, seperti halnya nasib orang-orang percaya yang akan dimuliakan Allah. manusialah satu-satunya ciptaan yang disebutkan Alkitab sebagai mahkota ciptaan karena telah diciptakan.
3.      Malaikat merupakan suatu kelompok, bukan suatu bangsa. Para malaikat disebut Alkitab sebagai bala tentara Allah (lukas 2:13).
4.      Bila berdosa sifatnya kekal (tidak ada pengampunan).
Malaikat diciptakan dengan akal budi, kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. Akal budi itu membuat mereka mempunyai pilihan, yaitu bisa mentaati Allah atau tidak mentaati-Nya . Alkitab mencatat adanya malaikat-malaikat yang dihukum Allah.
2 Petrus 2:4 (Malaikat dilemparkan kedalam neraka dan gua yang gelap dan menyimpan mereka sampai pada hari penghakiman). Yudas 1:6 (Allah menahan malaikat), Ayub 4:18 (hamba-hamba-Nya tidak dipercayai-Nya, para malaikat-Nya pun didapati-Nya tersesat).
5.      Malaikat itu lebih kuat dan lebih pandai dari pada manusia.

2 Petrus 2:11. Contoh kekuatan dan keperkasaan malaikat terlihat ketika melepaskan para rasul dari penjara (KPR 5:19;12:7).

Pemuda-Pemudi Dan Zaman Akhir, Ryan Frinandoe


       “Saya bebas, saya bebas lakukan apa saja apa yang menjadi keiinginan saya.” Kalimat ini adalah kalimat yang sering keluar dari dalam diri seorang pemuda/i dalam perkembangan zaman. Sepanjang sejarah kita telah melihat kerusakan diri generasi pemuda/i, termasuk mereka yang ada didalam ruang lingkup gereja. Terlalu banyak mereka yang sudah menyalahgunakan hak sebagai orang Kristen. Bagaimanakah inisiatif gereja dalam menanggapi keadaan begini? Ataukah gereja hanya berdiam diri dan membiarkan generasi ini rusak? Kalau gereja membiarkan hal ini terjadi maka artinya gereja itu tidur dan larut dalam kenyamanan ruangan dan keadaan hidup yang mewah lalu dengan gampang menganggap masalah ini gampang dan berpikir mereka bisa menjaga diri? Mereka perlu pengertian dan perhatian gereja. Dalam tantangan zaman yang semakin berkembang sedemikian hebat ini, kaum muda-mudi mengalami racun yang dinamakan racun kebebasan, dengan racun kebebasan itu mereka tidak banyak yang sadar bahwa racun kebebasan itu membius mereka dan akhirnya masuk kedalam jerumus kuasa setan dan duniawi belaka maka disinilah kesempatan bagi iblis untuk menjauhkan kehidupan muda-mudi dari gereja. Sadarkah engkau hari ini engkau berada dalam zaman akhir? Banyak mereka tidak mengerti, banyak mereka tidak memahami, pengkhotbah dan pengajar tidak lagi didengar, mereka lebih suka kehidupan bejad, inilah keadaan muda-mudi zaman akhir ini. Zaman ini membius, zaman ini menghancurkan pola hidup Kekristenan, dan juga zaman ini adalah zaman yang rusak. Mengapakah mereka senang berada diluar gereja dari pada didalam? Karena keadaan diluar lebih menarik dari keadaan yang didalam. Lalu melihat keadaan ini gereja mulai ikut juga untuk membuat muda-mudi kembali, dengan berkata “tidak usah diluar sana, disini juga ada” ini kalimat bukan dari Tuhan tapi dari setan. Seharusnya gereja tidak lagi membicarakan hal-hal yang selalu menjadi kebosanan muda-mudi. Apakah yang harus dilakukan? Yang harus dilakukan gereja harus mengajarkan doktrin yang benar, mengajar doktrin yang sesuai sampai pada titik mereka harus sadar bahwa mereka harus mengetahui keadaan zaman yang akan menghancurkan hidup mereka. Gereja terlalu asyik dengan show-show yang menarik, keluar masuk sana-sini, hingga lupa mengajar para generasi untuk tetap hidup dalam pimpinan Tuhan. Apa itu kebebasan? kebebasan adalah "bukan segala sesuatu boleh saya lakukan dan kerjakan dan saya punya kebebasan" kalimat ini bukan arti dari kebebasan, ini keliaran dan kebuasan. Kebebasan adalah "saya tahu itu tidak baik, maka saya memiliki kebebasan untuk tidak melakukannya, itu kebebasan. Amin, pemuda-pemudi yang salah menggunakan kebebasan, maka disitulah akhirnya mereka menyeleweng, dan merusak diri sedemikian hebat. Pikirnya itu baik, tetapi tidak bagi Tuhan Allah. Amin, bertobatlah dan kembalilah kepada Tuhan Allah, Dia memanggil mu, "anak-Ku kemarilah, Aku merindukanmu", sekarang hendakkah engkau kembali kepada-Nya? jika ia, berarti Roh Kudus sudah bekerja didalam hatimu. Amin.