Minggu, 06 April 2014

MANUSIA MULIA & MANUSIA BERDOSA, Ryan Frinandoe



A.   Status Manusia Mulia.
Dalam bab pertama kita sudah membahas tentang manusia yang adalah peta dan teladan Allah. Dalam status itu manusia sedang berada pada tahap yang paling tinggi dan sedemikian indah serta mulia adanya, sebab manusia adalah bersih, suci, kudus, mulia dan penuh dengan bahagia serta relasi yang begitu dekat dengan Tuhan Allah. Keberadaan manusia didalam status mulia, manusia memiliki cinta kasih kepada Allah, setiap hari Allah mengajar manusia, setiap hari Allah berjalan dengan manusia, setiap hari Allah mengetahui kedalam hati manusia. Status mulia ini adalah status yang didalamnya manusia memiliki potensi melebihi potensi mahkluk lainnya.
Status manusia yang mulia juga mempunyai unsur teladan Allah, kehadiran diri Allah, kemiripan dengan Tuhan Allah, memiliki beberapa sifat yang dapat saya simpulkan didalam bab pertama yaitu manusia memiliki sifat cinta kasih, keadilan dan kebenaran. Status ini tidak dimiliki oleh mahkluk lainnya, melainkan hanya manusia. Apakah manusia dalam status ini memiliki kebudayaan? Ada, kebudayaan itu murni dan sejati adanya. Kebudayaan itu dilihat dari tindakan manusia dalam kesehariannya berinteraksi kepada Tuhan Allah, dirinya sendiri, sesamanya dan dengan alam semesta serta mahkluk lainnya baik yang diatas dan yang dibawah. Saat Adam dan Hawa di Taman Eden, saya membayangkan mereka menjalin hubungan cinta kasih yang begitu indah, baik cinta kasih kepada Tuhan Allah dan kepada keduanya sama-sama saling memiliki cinta kasih. Maka status manusia yang mulia itu adalah status yang bersih tanpa cela.

B.   Manusia dan Iman.
Apa maksud Allah mewahyukan iman kepada setiap manusia? Jawabannya ialah agar manusia memiliki suatu keyakinan yang mutlak. Membicarakan tentang iman adalah membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan Allah juga. Iman itu tidak akan ada jikalau Allah tidak memberikannya kepada manusia, iman seperti apa yang Tuhan berikan pertamakali kepada manusia? Iman kepercayaan kepada Tuhan Allah bahwa Tuhan Allah itu ada. Stephen Tong mengatakan “iman adalah suatu pengarahan rohani kepada Tuhan kembali.”[1]Kaitan manusia dengan iman tidak boleh dilepas, setiap manusia sudah diberikan iman, iman yang sejati adalah iman dimana manusia sungguh-sungguh berpegang pada keyakinannya bahwa Tuhan adalah oknum tertinggi dan paling mulia dari dirinya. Suatu agama yang dibangun atas doktrin tidak dapat disebut agama bila agama tersebut tidak membicarakan iman. Iman merupakan keyakinan dimana Allah bereksistensi diatas ruang yang melampui akal perasaan manusia, inilah iman. Sejak manusia masih dalam status mulia iman yang ada dalam diri manusia itu iman yang sejati dan murni adanya, maka manusia tidak boleh melepaskan unsur mutlak ini dari dalam dirinya.

C.   Manusia dan Rasio.
Dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia kita telah melihat perjalanan hidup manusia yang disebut mahkluk rasio. Manusia bukan saja manusia yang mulia didalam statusnya melainkan manusia merupakan mahkluk yang berpikir dengan menggunakan rasionya. Inilah bedanya manusia dengan binatang. Stephen Tong mengatakan didalam bukunya “teori evolusi berusaha mencari persamaan antara manusia dan binatang. Teologi justru berusaha menyatakan perbedaan antara manusia dan binatang. Alkitab telah memberikan pengertian tentang diri manusia yang sedemikian tuntas dan jelas, sehingga hak asasi manusia akan dihargai, jika manusia betul-betul mengerti. Manusia adalah manusia, binatang adalah binatang.”[2] Manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan berintelektual ini adalah manusia yang mampu membedakan segala sesuatu tentang dirinya dengan mahkluk lain. Dalam pemikiran Mencius (371-288), ia memiliki suatu gaya corak pikiran mengenai manusia ia mengatakan “semua orang berpikir secara mendalam pasti memikirkan apakah dan siapakah sebenarnya manusia itu” ketika saya meneliti sejarah pandangan Mencius ini saya menyadari bahwa dari sejak zaman dahulu kala, baik kebudayaan Barat dan Timur sudah berusaha merumuskan perbedaan antara manusia dan binatang dengan semua mahkluk lain. Oleh karena itu, didalam kebudayaan Timur Mencius sebagai penerus Konfusius (551-479), menegaskan bahwa manusia berbeda dari binatang karena manusia memiliki hati nurani dan pikiran (rasio). Manusia memiliki rasio, bintang memiliki insting.
            Setelah membahas ketiga hal diatas dimana manusia sebagai manusia yang memiliki status mulia, kini saya akan membahas keberadaan status manusia didalam keberdosaan.

D.   Status Manusia Berdosa.
Dalam status yang tadinya mulia dan indah serta relasi yang baik dengan Tuhan Allah yang segala sesuatunya itu baik adanya, kini akhirnya manusia terjerumus kedalam pengajaran setan yang membawa manusia itu jatuh kedalam dosa. Status yang tadinya mulia kini menjadi rusak dan manusia kehilangan status sebagai mahkluk yang mulia lagi, namun tidak mengurangi keberadaan dirinya dalam status sebagai peta dan teladan Allah. Kerusakan yang terjadi mencakup banyak aspek dan nilai-nilai moralitas serta kebudayaan manusia.


E.   Status yang Rusak.
Dalam status yang berdosa ini maka saya menggunakan status yang rusak didalam diri manusia, sebab ketika manusia mengalami kejatuhan manusia bukan saja merusak diri, melainkan merusak seluruh sistem nilai kemanusiaannya dihadapan Tuhan Allah. Dalam status yang rusak itulah manusia mulai menyimpang dari kebenaran yang sejati. Kebenaran yang sejati tidak ada lagi didalam diri sebab kebenaran sejati itu sudah rusak dan mengalami distorsi dosa. Suatu hari saya merasa diri saya sudah mandi, setelah mandi saya merasa bersih, tapi ketika saya mulai membersihkan parit maka semua anggota tubuh saya dan saya terserang penyakit, maka inilah namanya rusak kebersihan saya dan mengalami pencemaran lingkungan dalam diri saya, akhirnya saya kena penyakit. Maka saya rusak. Ketika status itu rusak, maka akhirnya inilah sebagai contoh bagi kita sebagai manusia yang telah mengalami status rusak. John Calvin mengatakan “manusia yang telah berdosa telag mengalami kerusakan total”[3] dengan istilah tersebut ia menggambarkan bahwa manusia itu sangat rusak sekali, dalam keadaan status rusak maka manusia merusak hubungan dia sendiri dengan Tuhan Allah.
F.    Kebudayaan dan Agama.
Munculnya kebudayaan ketika manusia membiasakan diri hidup bergaul dengan Tuhan Allah dan alam. Tetapi kita telah melihat kerusakan status akibat dari dosa ternyata merusak sistem kebudayaan manusia antara Allah dan dengan alam juga. Tadinya kebudayaan itu baik, dan sistem perjalanan dari budaya kepada kebudayaan itu baik serta teratur, namun kini telah rusak. Manusia merusak, manusia melawan perintah dari Sang Pencipta. Akibat kerusakan itu maka manusia mulai takut kepada Tuhan Allah dan akhirnya bersembunyi, maka Tuhan datang mencari manusia yang berdosa itu untuk meminta pertanggungjawaban, tetapi mereka tidak bisa, maka Allah mendatangkan kutuk yang sampai hari ini dijalani oleh manusia. Kebudayaan yang telah rusak maka akhirnya manusia berusaha mencari Tuhan Allah dengan bermacam cara untuk mengembalikan hubungan itu kembali, maka manusia menciptakan agama. Pikir manusia dengan adanya agama maka manusia bisa bertemu dengan Tuhan Allah. namun sepanjang sejarah kita telah melihat keadaan manusia yang hidup beragama nyatanya tetap tidak bisa menemukan Tuhan Allah dengan cara itu. Maka akhirnya tidak ada cara lain, sesuai dengan janji-Nya Tuhan Allah (Kej. 3:15), maka Allah mendatangkan Kristus. Dalam Kristus itu Allah sendiri yang datang untuk menjelma menjadi manusia agar manusia bisa bertemu dengan Tuhan Allah. Barangsiapa percaya kepada Kristus maka ia akan bertemu dengan Yesus dan diselamatkan.



[1] Pdt. Dr. Stephen Tong, 2013,  Iman Pengharapan & Kasih dalam Krisis, STEMI, Momentum:Surabaya, hlm 3.
[2] Pdt. Dr. Stephen Tong, 2013, Iman, Rasio & Kebenaran, STEMI, Momentum: Surabaya, Hlm 6.
[3] Pdt. Jenus Junimen, 2013, Dogmatika II, AT-APT: Jakarta.

Selasa, 01 April 2014

MANUSIA & PENDERITAAN, Ryan Frinandoe


A.   Pengertian Penderitaan.
Affliction (penderitaan, kesusahan, kemalangan, dan derita) kata penderitaan yang merupakan kata yang mengandung gambaran keadaan diri manusia ketika mengalami masalah yang cukup berat didalam dirinya, sehingga kata penderitaan mempengaruhi diri manusia untuk masuk kedalam suatu lembah yang suram, penuh dengan sengsara untuk mencari pertolongan dan belas kasihan. Penderitaan adalah derita, susah, malang. Apakah menderita itu bahagia? Apakah bahagia itu menderita? Kita telah melihat keadaan manusia disepanjang sejarah kehidupan, kita juga telah melihat keberadaan hidup yang menderita tidak ada henti-hentinya untuk manusia menjalaninya. Dengan kata ini dan pengertiannya kita mendapat suatu gambaran dan beberapa pertanyaan yang menjadi fokus dari isi bab ini, sebab itulah kata itu adalah penderitaan.

B.   Permulaan Penderitaan.
Permulaan penderitaan datang bukan disaat zaman Kaisar, Hilter, Nicci, abad 16, abad 21 sekarang, bukan. Tetapi permulaan penderitaan datang yaitu disaat Allah menjatuhkan hukuman serta kutuk kepada binatang (ular), manusia dan bumi. Binatang yang pertamakali mendapat kutukan adalah ular, Allah mengutuk dia untuk berjalan dengan perutnya. Kemudian manusia akan bersusah payah mencari rejekinya dengan sampai berpeluh/keringat banting tulang untuk bekerja, hal ini khusus untuk laki-laki. Kemudian yang kedua kepada perempuan, maka pada saat ia mengandung Tuhan membuat ia kesakitan untuk melahirkan dan bukan saja itu Tuhan memerintahkan manusia harus beranakcucu. Maka disinilah kita melihat permulaan penderitaan yang datang, semua keadaan macam begini adalah cara Allah agar manusia bertanggung jawab atas kelakuannya yang telah melawan Tuhan Allah. melawan Tuhan bukan dalam arti marah, jengkel, tetapi dimana manusia tidak taat dan setia kepada firman-Nya maka disitulah letak perlawanan manusia kepada Tuhan. Penderitaan selanjutnya dialami oleh anak dari Adam dan Hawa yaitu Kain dan Habel, Habel mengalami penderitaan saat disiksa kakanya sampai mati, akibat dari penderitaan itu sampai-sampai Alkitab mencatat dengan jelas bahwa darah Habel berteriak sampai di Tuhan. Maka Kain menerima penderitaan didalam batin ia sendiri, ia harus ketakutan yang luar biasa, kalau-kalau Tuhan juga membunuh dia, tetapi tidak demikian, karena permintaannya Allah mau memberi tanda kepada dia agar ia tidak dibunuh. Meskipun ia tidak mati ditangan manusia, maka keturunannya lenyap sampai hari ini tidak berlanjut lagi, akibat kejahatan Kain, maka keturunannya lenyap karena mengalami penderitaan. Sejak kapankah letak permulaan penderitaan itu datang? Yaitu disaat manusia mengalami kejatuhan dan kerusakan status.
C.   Tujuan Hidup Manusia.
Sepanjang sejarah umat manusia dimuka bumi ini, kalau ditanya apakah tujuan mu hidup? Pasti jawabannya tidak lain dan tidak bukan pasti mencapai tujuan hidup bahagia. Kalau ditanya lagi apakah yang kamu inginkan didunia ini? Pasti jawabannya ingin hidup bahagia, kalau ditanya lagi mengapakah kamu tidak mau hidup menderita? Jawabannya pasti karena penderitaan itu bukan tujuan hidup, karena itu adalah sesuatu yang paling kutakutkan dalam hidup ini. Dalam khotbah saya, saya mengatakan “Penderitaan bukanlah tujuan akhir, kabahagiaan adalah tujuan akhir.” Kalimat ini merupakan kalimat yang tuntas dapat dimengerti oleh semua orang sebab memang benar bahwa tujuan hidup ini adalah mencapai bahagia. Dalam dunia filsafat, ada satu filsafat Epikurianisme yang berbunyi begini “tujuan hidup ini, kita harus mencari bahagia. Kalau tidak bahagia maka kita menderita, menderita bukan bahagia, dan bahagia bukan menderita.”[1] Filsafat ini baik adanya, namun banyak orang salah melaksanakannya, yang akhirnya filsafat ini tidak dapat dipakai lagi, meskipun tidak dipakai lagi tetapi prinsipnya banyak dilakukan manusia dengan kurang sadar bahwa dirinya menganut paham Epikurianisme. Maka disinilah kita melihat bahwa manusia berusaha menghilangkan penderitaan, karena penderitaan bukan tujuan hidup, melainkan kebahagiaanlah tujuan hidup.

D.   Penderitaan didalam Kebudayaan.
Apakah hubungan penderitaan dengan kebudayaan, sehingga ada penderitaan didalam kebudayaan. Sewaktu sebelum saya pergi ke sekolah Alkitab, saya setiap kali pulang sekolah ketika SMA harus pergi ke hutan mencari kayu bakar, setelah itu saya menyedap karet, sebab itu adalah salah satu mata pencaharian kami dalam hidup pada waktu itu. Saya dan orang tua harus berjuang untuk mencari rejeki agar bisa memenuhi kehidupan sehari, saya pribadi merasa menderita, mau tidak mau harus dilaksanakan, maka dibalik kebudayaan itu ada sesuatu yang tersembunyi yang dapat saya sadari yaitu penderitaan. Kebudayaan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari adalah gaya kehidupan setiap orang, yang didalam melaksanakannya manusia harus melalui suatu penderitaan dan menyikapi penderitaan itu dengan tenang meskipun kesusahan menghadapinya. Seorang petani menunggu hasil dari ladangnya, namun ketika kemarau datang maka ladangnya mengalami kekeringan, ia harus berjuang mendatangkan banyak air untuuk disalurkan keladangnya entah dengan berbagai cara ia harus mendatangkan air. Maka disinilah budaya itu terlihat dengan menggunakan akal budi, namun ada satu hal yang harus dilalui terlebih dahulu yaitu penderitaan. Jika tidak demikian maka petani itu menderita tidak makan hasil dari ladangnya, maka dalam penderitaannya ditambah lagi, akhirnya beratlah penderitaan itu. Ada satu seorang filsuf terkenal dengan filsafatnya yaitu Confusius, filsafatnya berbunyi “tujuan manusia menurut Konfusianisme adalah mencapai keharmonisan ataupun keseimbangan. Keharmonisan dengan alam dan juga keharmonisan dengan sesama manusia.”[2]

E.   Penderitaan Akibat Dosa.
Ketika seseorang mengalami penderitaan, pertanyaan yang keluar ialah “mengapa saya?, mengapa harus saya?, mengapa diri saya yang menderita penderitaan ini?,” Stephen Tong mengatakan “hal ini adalah perasaan yang sendiri, perasaan yang tidak seharusnya, perasaan kehilangan sesuatu, dan perasaan yang tersiksa, semua itu menjadi rangsangan kesadaran eksistensi setiap pribadi.”[3] Penderitaan macam ini perlu dipertanyakan mengapa penderitaan akibat dari dosa? Dosa adalah penyebab pertama adanya penderitaan, saat manusia menerima tawaran Iblis maka manusia akhirnya memiliki keberadaan seperti iblis yang suka melawan. Yang membuat manusia jatuh kedalam dosa adalah disaat manusia melawan perintah Tuhan Allah. Fakta pertama orang bisa jatuh kedalam dosa adalah saat ia mencoba melawan Tuhan dengan kelakuannya yang sombong dan kebohongan, satu lagi ialah ia tidak hendak TAAT kepada perintah Tuhan Allah. jikalau kita bertanya kepada orang lain “apakah engkau berdosa? Jawabnya ia saya berdosa” karena ia sadar bahwa ia berdosa maka kita juga sadar bahwa kita manusia berdosa, karena kita sama dengan dia. Penderitaan akibat dari dosa ini jelas, sebab penderitaan adalah hukuman yang Tuhan berikan kepada manusia yang memberontak.

F.    Penderitaan Bukan Akibat Dosa.
Bila kita mengingat peristiwa penggenapan janji penebusan dari Allah dengan mengirim Kristus kedalam dunia maka kita akan melihat dan sadar bahwa Yesus tidak berdosa mengapa ia harus menderita. Penderitaan yang Kristus alami bukan penderitaan yang biasa yang dirasakan manusia biasa seperti kita, tetapi penderitaan yang Dia alami adalah penderitaan yang sedemikian hebat dan dasyat. Bagi manusia itu adalah kabar Baik, tetapi bagi Kristus Dia harus menderita memikul dosa manusia ke atas tiang salib dengan tubuhnya, maka tubuhnya diremukkan sebagai wujud dari murka Allah kepada manusia yang ditimpakan kepada Dia. Bila kita mengingat peristiwa Ayub, Ayub dikenal seorang yang saleh dihadapan Tuhan Allah, dan ia berlaku benar di masa hidupnya. Penderitaan yang Tuhan ijinkan kepada Ayub adalah penderitaan yang lumayan hebat juga, namun penderitaan yang ia alami itu tidak membuat dirinya menjadi seorang Atheis, justru ia melihat penderitaan itu sebagai suatu tindakan Allah untuk melihat kesetiaannya sendiri. Namun kita melihat manusia zaman ini lebih banyak brengsek dan tidak berpegang kepada prinsip Alkitab Firman Tuhan Allah yang Hidup. Sedikit-sedikit penderitaan datang langsung mau meninggalkan Tuhan, mau menjadi Atheis, dan akhirnya menjadi murtad sampai mati dendam kepada Tuhan. Manusia yang macam begitu bukan manusia yang baik dan setia kepada Allah, manusia yang setia kepada Allah adalah manusia yang sadar dimana penderitaan itu datang bukan akibat dosanya tetapi karena Allah ingin menguji kekuatan imannya.

G.  Hakekat Penderitaan.
Jika saya bertanya: penderitaan itu sebenarnya ada atau tidak? Jika kita sebagai manusia merasa menderita, maka apakah itu berarti itu pasti ada penderitaan, ataukah ada penderitaan, maka baru manusia merasa menderita? Maka kita secara sadar menjawab dengan jujur “tentu, ada penderitaan, maka barulah kita merasakan penderitaan. Ada seorang anak kecil yang menangisnya luar biasa hampir 10 menit ia tidak berhenti menangis karena ia digigit nyamuk, dan ia gatal-gatal. Bagi anak itu, digigit nyamuk adalah penderitaan karena gatal-gatal. Tetapi bagi ayah itu bukan penderitaan, sebab sang ayah bukan saja mengerti penderitaan yang dialami oleh anaknya, tetapi ia juga tahu batasan penderitaan itu, ia tahu beberapa menit lagi penderitaan digigit nyamuk akan hilang dan tahu bahwa penderitaan itu tidak akan mendatangkan kematian. Jadi hakekat penderitaan itu adalah dimana kita mengerti akan batas-batas penderitaan lebih penting dari pada perasaan menderita. Stephen Tong mengatakan didalam bukunya begini “hakekat penderitaan itu ialah adanya perasaan kehilangan kenyamanan yang dulunya kita nikmati.”[4]

H.  Jenis-Jenis Penderitaan.
Ada tiga jenis penderitaan yang dimuat Stephen Tong didalam bukunya yaitu:
1.      Kecacatan Alamiah. Ada orang yang dilahirkan buta, tuli, bisa atau memiliki tangan kaki yang tidak sempurna. Ini merupakan penderitaan alamiah yang didapatkan seseorang ketika ia dilahirkan.
2.      Bencana Alam. Misalnya gunung meletus, air bah, tsunami, gempa bumi, longsor, tanah terbelah, dan akibat dari bencana alam maka bencana alam menghancurkan apa yang kita miliki.
3.      Bencana Perang. Yaitu meletusnya kebencian antara bangsa dengan bangsa, yang menimbulkan berbagai kekejaman di medan perang. Akibatnya, ada orang-orang yang terkena bom atau peluru sehingga cacat atau mati.
Tiga jenis penderitaan diatas adalah penderitaan yang besar terjadi didalam sejarah umat manusia menurut Stephen Tong.[5]



[1]Rian Frinandoe, 2013, Khotbah Reformasi Kekristenan, AT-APT: Jakarta. Saya memberikan beberapa penjelasan pandangan ilmu filsafat yang mempengaruhi hidup Kekristenan dari zaman ke zaman. Tapi kebahagiaan yang dimaksud oleh orang Epikurianisme bukan kebahagiaan yang sejati, melainkan kebahagiaan yang sementara. Kebahagiaan yang sejati dalam kehidupan Kekristenan adalah kebahagiaan yang kekal, itu hanya bisa didapatkan apabila manusia mau kembali kepada Tuhan Allah dengan sungguh-sungguh.
[2] Info Psikologi memberikan penjelasan kepada publik melalui situsnya mengenai ajaran Confusius, di post oleh Psychologymania, http://ajaranconfusionisme.com.
[3] Pdt. Stephen Tong, 2011, Iman Penderitaan dan Hak Asasi Manusia, Momentum: Surabaya, hlm. 36.
[4] Ibid, hlm. 52.
[5] Ibid, hlm. 60.

Yesus Kristus dan Yesus Barabas, (Markus 15:13-14). Ryan Frinandoe.

“Saya sudah bebas, saya sudah bebas, saya bebas” mungkin kalimat itulah yang ada dalam pikiran Barabas atau mungkin barangkali ia berteriak menyatakan dirinya telah bebas. Sejarah telah mengajarkan kita untuk mengetahui peristiwa ini, mengapakah harus Barabas, tidak adakah tahanan yang lain, mengapakah orang paling jahat harus dibebaskan dan Yesus yang tidak sedikitpun bersalah harus menerima penghakiman oleh manusia berdosa? Apakah ini keadilan? Hal ini bukan keadilan, melainkan kecurangan, hal ini dimata manusia. Bagaimanakah kita menulusurinya sampai kepada akarnya dari kisah ini? Mari kita akan berdoa dan bersyukur kepada Roh Kudus yang memperbolehkan kita mempelajari hal ini.
            Keberadaan Barabas sebagai penjahat adalah keberadaan dia sebagai penjahat yang paling kejam, dan dia banyak menyusahkan masyarakat, kelakuan dia yang tidak bermorallah yang membuat ia ditahan didalam penjara. Yesus dibawa kedepan Pilatus dan diperhadapkan dengan orang banyak, Ia tidak takut, sebab Ia tidak bersalah, bahkan Pilatus pun secara sadar bahwa Ia tidak bersalah, namun Pilatus lebih memihak kepada suara aspirasi rakyat Yahudi untuk membebaskan Barabas dan menghukum Yesus Kristus. Kebenaran Yesus pada waktu Ia berkata didalam rumah ibadat (sinagoge) “Roh Tuhan ada pada-Ku, Aku datang memberitahukan rahmat Tuhan telah datang untuk membebaskan orang yang tertawan...” kedatangan Yesus dihadapan Pilatus akhirnya membebaskan Barabas, kedatangan Yesus didepan Pilatus memberikan suatu cahaya cinta kasih yang sedemikian hebat. Yesus orang yang tidak berdosa harus membebaskan orang berdosa seperti Barabas. Disinilah bukti pertama bahwa ada orang pertama yang dibebaskan oleh kuasa kedatangan Kristus menjelang penghakiman atas Dia yaitu dengan dibebaskan oleh Barabas dari dalam penjara. Barabas adalah orang tawanan yang paling jahat. Alkitab tidak mencatat kelanjutan kehidupannya lagi setelah bebas. Mungkin ia bertanya-tanya mengapa saya bebas? Mengapakah saya harus bebas sedangkan Dia harus disalibkan? Saya berharap Barabas sadar dari dosanya dan kembali kepada Allah. Tidak ada orang yang dibebaskan dari penjara selain dari Barabas yang menikmati kebebasan pertamakali didalam Injil melalui persiapan penyaliban Yesus. Sebab dalam kitab PL belum ada penyataan tentang pembebasan satu orang diwaktu Paskah. Pilatus sengaja berdusta, dan ia sengaja membuat peraturannya bahwa ia sengaja mengatakan bahwa kebiasaan mereka untuk membebaskan satu orang dihari sabat. Apakah yang ada dalam hati Pilatus? Sebenarnya ia ingin membebaskan Yesus Kristus, dan ia sangat berharap rakyat Yahudi mengatakan “ya sudah bebaskan saja Yesus” tetapi hati rakyat tetap meminta Yesus harus dibunuh. Mengapakah harus Yesus yang dibunuh? Karena pikir mereka karena keberadaan Yesus akan menghapus sistem kebudayaan mereka dan menghapus hukum Taurat. Ketetapan/kebiasaan tidak ada tertera dalam kitab Taurat mengenai hari paskah ada pembebasan bagi seorang tawanan, hukum itu tidak ada, hukum itu hanya akal dari Pilatus saja yang ingin membebaskan Yesus Kristus namun usahanya gagal total, ia tidak bijaksana dan tidak mengerti baik-baik. Pilatus adalah seorang budak Kaisar, Pilatus mengetahui peraturan hukum Taurat, tetapi ia sengaja membuat peraturan baru. Barabas yang hina dan berdosa yang akan mengalami penghakiman kematian menjelang akhir penghukumannya kini telah digantikan oleh Yesus, inilah kuasa kedatangan Yesus. Barabas adalah orang pertama yang bebas dari penjara dalam masa kehidupan Tuhan Yesus. Tapi apakah Barabas bertobat setelah keluar dari penjara? Yesus menggantikan dia, Yesus mau menjadi tebusan bagi Dia. Seolah-olah bila diilustrasikan “anak-Ku biarlah Aku yang menggantikan penderitaanmu, bebaslah engkau dari penderitaanmu” seakan-akan beginilah kejadiannya. Tetapi kita tidak dapat menjadikannya suatu doktrin dan berani berkata Barabas telah bertobat, sebab Alkitab tidak mencatatnya dan menaruh kelanjutan dari hidupnya setelah dibebaskan. Maka kita hanya berkata “mungkin saja ia bertobat dan memulai hidupnya yang baru, atau barangkali ia hidup lagi didalam kejatahannya. Namun yang pasti Barabas ditukar dengan Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah nama dari Tuhan Yesus Kristus sendiri, Barabas memiliki nama lengkap Yesus Barabas, keduanya ada kemiripan nama awal. Namun kali ini Yesus Barabas bukanlah orang baik, tetapi Yesus Kristuslah orang yang paling baik dimasa hidup-Nya.

            Pengorbanan Yesus Kristus didalam sejarah bukanlah pengorbanan yang bersifat main-main, pengorbanan Yesus adalah pengorbanan yang sejati, maka disinilah kita melihat keadilan Allah untuk menepati janji-Nya didalam sejarah penebusan melalui Anak-Nya yang Ia kasihi dan kepada-Nya Ia berkenan. Yesus harus menanggung dosa manusia yang jahat, Yesus mau naik dengan darah yang mengucur sedemikian hebat, dengan kekuatan yang begitu dasyat untuk sampai membawa penderitaan manusia keatas kayu salib. Tadinya manusialah yang harus menanggung penghakiman murka Allah yang bernyala-nyala, namun Yesus Kristus mau mengambil keputusan agar Ia menjadi pendamai dari murka Allah terhadap manusia. Diperjalanan menuju golgota Ia harus tahu akan tiba saatnya penghakiman Allah dimulai atas diri-Nya yang didalam Dia segala dosa manusia telah dibawa-Nya ke golgota sehingga didalam murka Allah itu Ia meneriman penghakiman Allah. Semua ini dilakukan Yesus karena Ia mengasihi manusia berdosa, Allah tidak membenci manusia, tetapi Allah membenci dosanya. Sama seperti seorang ibu akan membersihkan kotoran dimuka anaknya, ia tidak mau muka anaknya kotor, maka dengan paksa ia harus membersihkannya karena ia sayang. Yesus Kristus disalib, dan Yesus Barabas harus dibebaskan oleh sebab kedatangan Yesus waktu itu mendatangkan sukacita baginya, ini adalah karya Kristus, dengan melihat wajah Yesus yang begitu sedih penuh dengan darah, Barabas dapat bebas, sebelum Yesus berada dikayu salib Barabas terlebih dahulu bebas dari penderitaan. Sekarang apakah saudara bahagia dengan kedatangan dan kehadiran Tuhan dalam hidup saudara? Jika ya, maka Roh Kudus sudah berbicara dan menghibur serta bekerja didalam hatimu. Amin.

Sifat Malaikat, Ryan Frinandoe.

Sifat Malaikat.
1.      Para malaikat disebut sebagai roh-roh yang melayani. Tidak berbadan jasmani, namun roh. Alkitab pernah mencatat bahwa mereka pernah memakai tubuh manusia (kej. 18-19, Luk. 1:26, Yoh. 20:12; Ibrani 13:2.
Kenyataan ini merupakan peristiwa khusus yang terjadi atas campur tangan “kuasa Tuhan” didalamnya. Adanya tubuh jasmani dalam penampakan malaikat tidak terlepas dari otoritas Tuhan yang mengijinkan hal itu dan dalam pengawasan-Nya sebagai pelaksanaan firman-Nya.
2.      Malaikat bukan manusia yang dimuliakan. Matius 22:30, manusia dikatakan akan menjadi seperti malaikat tetapi tidak akan menjadi malaikat. Alkitab mencatat lebih rendah sedikit dari malaikat, tetapi kemudian akan menjadi tinggi dari pada malaikat (Maz. 8:6; Ibrani 2:7) bahkan orang-orang percaya disebutkan oleh firman Tuhan suatu saat nanti akan menghakimi malaikat (1 Korintus 6:3). Malaikat tidak pernah akan dimuliakan, seperti halnya nasib orang-orang percaya yang akan dimuliakan Allah. manusialah satu-satunya ciptaan yang disebutkan Alkitab sebagai mahkota ciptaan karena telah diciptakan.
3.      Malaikat merupakan suatu kelompok, bukan suatu bangsa. Para malaikat disebut Alkitab sebagai bala tentara Allah (lukas 2:13).
4.      Bila berdosa sifatnya kekal (tidak ada pengampunan).
Malaikat diciptakan dengan akal budi, kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. Akal budi itu membuat mereka mempunyai pilihan, yaitu bisa mentaati Allah atau tidak mentaati-Nya . Alkitab mencatat adanya malaikat-malaikat yang dihukum Allah.
2 Petrus 2:4 (Malaikat dilemparkan kedalam neraka dan gua yang gelap dan menyimpan mereka sampai pada hari penghakiman). Yudas 1:6 (Allah menahan malaikat), Ayub 4:18 (hamba-hamba-Nya tidak dipercayai-Nya, para malaikat-Nya pun didapati-Nya tersesat).
5.      Malaikat itu lebih kuat dan lebih pandai dari pada manusia.

2 Petrus 2:11. Contoh kekuatan dan keperkasaan malaikat terlihat ketika melepaskan para rasul dari penjara (KPR 5:19;12:7).

Pemuda-Pemudi Dan Zaman Akhir, Ryan Frinandoe


       “Saya bebas, saya bebas lakukan apa saja apa yang menjadi keiinginan saya.” Kalimat ini adalah kalimat yang sering keluar dari dalam diri seorang pemuda/i dalam perkembangan zaman. Sepanjang sejarah kita telah melihat kerusakan diri generasi pemuda/i, termasuk mereka yang ada didalam ruang lingkup gereja. Terlalu banyak mereka yang sudah menyalahgunakan hak sebagai orang Kristen. Bagaimanakah inisiatif gereja dalam menanggapi keadaan begini? Ataukah gereja hanya berdiam diri dan membiarkan generasi ini rusak? Kalau gereja membiarkan hal ini terjadi maka artinya gereja itu tidur dan larut dalam kenyamanan ruangan dan keadaan hidup yang mewah lalu dengan gampang menganggap masalah ini gampang dan berpikir mereka bisa menjaga diri? Mereka perlu pengertian dan perhatian gereja. Dalam tantangan zaman yang semakin berkembang sedemikian hebat ini, kaum muda-mudi mengalami racun yang dinamakan racun kebebasan, dengan racun kebebasan itu mereka tidak banyak yang sadar bahwa racun kebebasan itu membius mereka dan akhirnya masuk kedalam jerumus kuasa setan dan duniawi belaka maka disinilah kesempatan bagi iblis untuk menjauhkan kehidupan muda-mudi dari gereja. Sadarkah engkau hari ini engkau berada dalam zaman akhir? Banyak mereka tidak mengerti, banyak mereka tidak memahami, pengkhotbah dan pengajar tidak lagi didengar, mereka lebih suka kehidupan bejad, inilah keadaan muda-mudi zaman akhir ini. Zaman ini membius, zaman ini menghancurkan pola hidup Kekristenan, dan juga zaman ini adalah zaman yang rusak. Mengapakah mereka senang berada diluar gereja dari pada didalam? Karena keadaan diluar lebih menarik dari keadaan yang didalam. Lalu melihat keadaan ini gereja mulai ikut juga untuk membuat muda-mudi kembali, dengan berkata “tidak usah diluar sana, disini juga ada” ini kalimat bukan dari Tuhan tapi dari setan. Seharusnya gereja tidak lagi membicarakan hal-hal yang selalu menjadi kebosanan muda-mudi. Apakah yang harus dilakukan? Yang harus dilakukan gereja harus mengajarkan doktrin yang benar, mengajar doktrin yang sesuai sampai pada titik mereka harus sadar bahwa mereka harus mengetahui keadaan zaman yang akan menghancurkan hidup mereka. Gereja terlalu asyik dengan show-show yang menarik, keluar masuk sana-sini, hingga lupa mengajar para generasi untuk tetap hidup dalam pimpinan Tuhan. Apa itu kebebasan? kebebasan adalah "bukan segala sesuatu boleh saya lakukan dan kerjakan dan saya punya kebebasan" kalimat ini bukan arti dari kebebasan, ini keliaran dan kebuasan. Kebebasan adalah "saya tahu itu tidak baik, maka saya memiliki kebebasan untuk tidak melakukannya, itu kebebasan. Amin, pemuda-pemudi yang salah menggunakan kebebasan, maka disitulah akhirnya mereka menyeleweng, dan merusak diri sedemikian hebat. Pikirnya itu baik, tetapi tidak bagi Tuhan Allah. Amin, bertobatlah dan kembalilah kepada Tuhan Allah, Dia memanggil mu, "anak-Ku kemarilah, Aku merindukanmu", sekarang hendakkah engkau kembali kepada-Nya? jika ia, berarti Roh Kudus sudah bekerja didalam hatimu. Amin.

Selasa, 25 Maret 2014

MANUSIA DAN RELASINYA, Oleh Ryan Frinandoe


A.   Manusia.
Manusia ialah salah satu ciptaan Tuhan Allah, manusia yang diciptakan Tuhan Allah memiliki peta dan teladan Allah. Manusia merupakan mahkluk paling indah dari segala ciptaan yang ada didalam alam semesta ini. Manusia yang diciptakan Tuhan memiliki kemiripan dan kemuliaan, sehingga manusia itu indah adanya, banyak mandat yang Allah berikan kepada manusia setelah Tuhan Allah menciptakan alam semesta dan manusia, yaitu mandat untuk menguasai alam semesta. Manusia telah memiliki nilai yang begitu tinggi kini mencapai suatu derajat dimana alam semesta harus takluk kepada perintah manusia, maka manusia dapat dikatakan menjadi wakil Tuhan dibumi ini untuk memelihara segala yang hidup. Manusia bukan saja mendapat bagian yang memiliki kemiripan dengan Tuhan Allah melainkan manusia memiliki bagian dari alam semesta ini, yaitu debu dan tanah, kedua elemen tersebut ada didalam diri manusia sehingga manusia mendapat nilai yang tinggi dimata Tuhan Allah, maka kita menyebut diri kita ini adalah manusia bagian dari Tuhan Allah dalam keilahian Allah yaitu nafas dari Allah yang berguna menjadikan manusia berkomunikasi dengan Tuhan Allah, sedangkan debu dan tanah maka manusia harus menyadari bahwa ia adalah bagian dari alam yang berguna manusia berkomunikasi dengan alam semesta, inilah namanya manusia. Siapakah manusia? Dalam mazmur 8 firman Tuhan memberitahukan kepada kita tentang dimanakah kedudukan manusia dan berapa nilai yang ada pada manusia itu. saat manusia melihat sekitarnya dan ia menengadah ke langit maka ia sadar siapakah saya ini, ketika ia melihat keatas ia tidak menganggap dirinya rendah dari ciptaan Allah yang lainnya, justru ia melihat bintang, bulan matahari, langit, binatang diatas dan dibawah bumi tetap ada dibawah manusia. Maka disinilah manusia menyadari bahwa ia memiliki nilai yang begitu tinggi dari ciptaan Allah yang lainnya.

B.   Sifat Manusia dan Relasinya.
Manusia yang Tuhan ciptakan bukan saja memiliki hak yang sedemikian mulia, melainkan manusia juga memiliki sifat yang membuat manusia itu dapat berinteraksi dengan siapapun. Sifat-sifat apakah yang Allah tanamkan dalam diri manusia? Sifat itu ialah sifat cinta kasih, keadilan dan kebenaran. Manusia tidak dapat memiliki 3 sifat ini jikalau tidak ditanamkan oleh Tuhan Allah, sifat ini saya sebut sifat yang permanen dari Tuhan Allah. 3 sifat ini akan saya bahas dalam ketiga pengertian dengan membaginya menjadi tiga sesuai dengan sifat-sifat yang saya sebutkan.


a.      Sifat Manusia adalah Cinta kasih.
Cinta kasih yang ada diri manusia adalah cinta kasih yang dari Allah, hal sifat ini menggambarkan bahwa Allah itu cinta kasih adanya dan cinta kasih adalah sifat Allah itu sendiri yang diberikan kepada manusia sehingga dari manusia akan tergambar sifat Allah yang sedemikian indah dan mulia, makanya itulah manusia disebut peta dan teladan Allah. Cinta kasih ini diberikan kepada manusia guna untuk manusia memiliki cinta kasih kepada Tuhan Allah dan kepada ciptaan Allah yang lainnya. Inilah manusia yang bersifat cinta kasih.
b.       Sifat Manusia adalah Keadilan.
Allah mencintai keadilan dan membenci ketidakadilan, ini adalah sifat Allah. Sifat keadilan Allah ini ditanamkan didalam diri manusia, sehingga manusia harus memiliki keadilan dalam mengendalikan alam semesta, keadilan yang Allah berikan adalah keadilan yang memiliki sifat kemuliaan untuk mengadili keberadaan alam semesta. Keadilan tidak diberikan kepada binatang agar binatang tidak dapat menjadi hakim atas manusia melainkan manusia harus menjadi hakim bagi segala mahkluk. Sifat keadilan Allah ini menggambarkan bahwa Allah adalah adil, dengan demikian manusia sadar bahwa Allah adalah yang adil dan penuh cinta kasih.
c.       Sifat Manusia adalah Kebenaran.
Cinta kasih, keadilan dan kebenaran adalah sifat Allah yang ada diri manusia, sehingga manusia menjadi manusia yang mulia yang memiliki sifat kebenaran dalam mengendalikan dirinya serta sesamanya.  Kebenaran diberikan kepada manusia adalah bukan kebenaran yang memiliki standar nilai yang rendah melainkan nilai kebenaran yang bernilai tinggi. Sehingga manusia itu mempunyai kebenaran dari Allah dan sifat ini permanen adanya.
            Sifat manusia yang berelasi ini mengakibatkan manusia tidak boleh lepas dari keberadaan dirinya sebagai peta dan teladan Allah. Sebab dengan relasi ini manusia sadar bahwa ada satu oknum yang tertinggi yang lebih besar dari dirinya. Sifat-sifat yang Allah tanamkan dalam diri manusia bukan sifat yang sementara melainkan kekal. Sifat manusia yang berelasi juga menjadikan manusia memiliki suatu kebiasaan untuk dapat mengendalikan alam semesta serta hubungan yang baik dengan Tuhan Allah mengakibatkan manusia disebut manusia yang berbudaya untuk mengetahui jati dirinya.

C.   Manusia Relasinya dengan Tuhan Allah.
Pertamakali manusia bukan berelasi dengan binatang atau sesamanya dan bahkan alam semesta tetapi yang pertamakali itu ialah dengan Tuhan Allah. Ada berbagai percakapan yang terjadi antara Allah dan manusia dan sebaliknya. Relasi Allah dan manusia begitu baik dan terlalu sangat baik adanya, sehingga relasi ini bukan relasi yang biasa saja. Percakapan Allah dan manusia pertama dimana manusia ada adalah melatih manusia bisa berinteraksi dengan ciptaan Allah yang lain juga maka inilah cara Allah mendidik. Sehingga dari setiap tingkah laku yang keluar dari dalam diri manusia itu disebut suatu unsur kebudayaan. Unsur itu demikian berkembang dan manusia menjadikan unsur itu sebagai suatu wujud dari dalam dirinya yang disebut kebudayaan. Sehingga ketika manusia berelasi dengan Tuhan Allah maka disitulah kebudayaan menjadi hadir yang membuat manusia menjadi memiliki kebiasaan untuk berelasi dengan Tuhan Allah. Hal ini tidak boleh lepas dari aspek nilai-nilai relasi manusia dengan Tuhan Allah. Sebab dimana ketika manusia mulai tidak berelasi dengan Tuhan Allah maka disitulah terjadi kerusakan relasi, ini penting untuk direnungkan. Stephen Tong mengatakan didalam bukunya “Melalui relasi manusia dengan Tuhan Allah diri manusia juga harus melakukan penyesuaian sehingga keadilan, kebenaran Tuhan Allah dapat menjadi patokan didalam hidup untuk memperbaiki segala aspek nilai seluruh etika dan moral manusia.”[1]

D.   Manusia Relasinya dengan Sesama.
Tahap pertama manusia berelasi dengan Tuhan Allah, tahap yang kedua manusia berelasi dengan manusia. Para pakar sosiolog mengatakan manusia itu tidak dapat hidup dengan sendirinya, melainkan manusia itu dapat hidup bila ia berelasi dengan sesamanya. Artinya ialah kehidupan manusia itu sama-sama saling melengkapi kekurangan sesamanya yang lain. Dengan demikian Allah menghendaki manusia juga berhubungan dengan sesamanya manusia, agar terjalin cinta kasih yang utuh, keadilan dan kebenaran. Maka manusia bukan saja harus berelasi dengan Tuhan Allah semata-mata melainkan kepada manusia juga. Stephen Tong mengatakan “jika saya senang, saya lakukan kepada orang lain, itu merupakan satu penilaian antara diriku dengan orang lain yang setimpal dan seimbang. Itu suatu keharmonisan, sesuai dengan penilaian manusia yang konsisten dengan suatu ukuran.”[2]
Kehidupan yang indah dan tergambar kebahagiaan itu ketika manusia juga menjalani hakekatnya sebagai manusia yang harus hidup bersama-sama dengan sesamanya. dalam relasi manusia dengan manusia ada satu nilai yang dijunjung tinggi yaitu moral dan nilai-nilai kebenaran itu sendiri, maka kehidupan yang indah dan bahagia itu ada didalam manusia antara manusia. Mengenai sikap manusia terhadap sesama adalah manusia yang didalam masyarakat Malcolm Brownlee mengatakan “dalam masyarakat desa tradisional manusia tidak pernah merasa sendirian. Kewajiban-kewajiban timbal balikmengikat warga desa seorang kepada yang lain. Orang-orang desa tradisional suka bergaul, saling menolong, dan berusaha hidup damai tanpa perbedaan kedudukan atau harta yang menyolok.”[3]


E.   Manusia Relasinya dengan Diri Sendiri.
Tahap yang ketiga manusia memiliki hubungan antara diri dengan dirinya sendiri, jadi bukan saja manusia dengan Tuhan Allah, sesama manusia saja, melainkan juga kepada dirinya sendiri. Apabila saya menggunakan kata esensi maka saya juga membicarakan tentang diri dengan keberadaan diri ini. Ada 3 unsur yang Alkitab berikan kepada kita yang telah menjadikan doktrin adalah tubuh, jiwa dan roh. Ketika unsur ini memiliki suatu komunikasi yang membentuk mengapa manusia harus ada, dalam diri ini jangan kira diri tidak dapat berbicara kepada diri sendiri. Tiga unsur ini menjadi komponen yang menggerakkan manusia berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Ketika kedagingan berbicara maka jiwa pun berbicara, ketika jiwa berbicara maka roh pun berbicara dan bertanya kepada Tuhan apakah layak jikalau saya berbuat ini dan itu Tuhan? Oleh sebab itu inilah namanya esensi diri dengan diri sendiri. Pernah suatu kali saya sedang menggendong anak kecil, anak kecil itu terus menangis ketika saya gendong dia maka ia juga marahnya luarbiasa sama saya lalu saya pukul bokongnya dan ia diam, tapi menangis lagi maka akhirnya saya marah sekali. Setelah saya letakkan dia ditempat tidur, ia diam. Lalu hati saya berkata begini “kamu salah, kamu tidak bisa mengontrol diri, pikiranmu dengan pikirannya tidak sama tetapi otakmu dengan otaknya sama” setelah saya diberitahu begitu saya mengelus-eluskan kepalanya dan minta maaf pada anak kecil itu. disini;ah peristiwa jiwa berperan penting terkhususnya hati ia telah menjadi hakim, maka roh menggerakkan daging saya untuk menyentuh anak itu dan minta maaf. Stephen Tong mengatakan “diri berelasi dengan diri, diri menilai diri, diri mengukur diri, harus melalui suatu standard, dan standard itu sebenarnya adalah standard yang bagaimana? Hal ini perlu kita pikirkan.”[4] Dalam ungkapan Stephen Tong, ia tidak melanjutkan kepada tahap yang bagaimana kita menggunaka suatu ukuran untuk menilai diri, maka saya menjawab ujian darinya “dengan menggunakan standard kebenaran Allah, keadilan Allah, serta sudut pandang Allah memandang manusia. Jika Allah memandang manusia itu berdosa, maka manusia harus sadar bahwa ia berada dalam status berdosa, jika manusia memandang manusia lainnya berdosa maka ia harus menilai dirinya juga manusia berdosa.




[1] Pdt. Dr. Stephen Tong, 2012, Dosa, Keadilan & Penghakiman, LRII, Momentum Surabaya,  Hlm. 8.
[2] Ibid, Hlm. 6.
[3] Malcolm Brownlee, 2004, Tugas Manusia Dalam Dunia Miliki Tuhan, BPK Gunung Mulia: Jakarta, Hlm. 69.
[4] Ibid, Dosa, Keadilan & Penghakiman,  Hlm. 6.

Selasa, 11 Februari 2014

Kristuskah atau Hartakah?... Ryan Frinandoe

Mengapakah kebanyakan orang Kristen menyelewengkan imannya? Apakah sebabnya? Apakah motivasinya? Adakah Kristus lebih penting dari harta? Adakah harta lebih penting dari Kristus?

Yang namanya manusia di sepanjang sejarah, umat manusia tidak senang yang namanya hidup susah atau miskin betul atau tidak? Betul. Orang Kristen dalam dunia, yaitu dunia yang Allah ciptakan. Dari manakah asal mulanya penderitaan datang? Yaitu sejak adam dan hawa jatuh dalam dosa. Kejatuhan mereka ke dalam dosa telah mempengaruhi keturunan manusia diseluruh dunia sehingga kebahagiaan yang tadinya Allah persiapkan kepada manusia kini dirusak oleh manusia itu sendiri. Jadi siapakah yang membuat manusia ini menderita yaitu manusia itu sendiri oleh sebab dorongan iblis. Apakah rencana Allah memberikan kebahagiaan kepada manusia gagal? Tidak. Allah mempersiapkan Kristus untuk menjadi tebusan dosa umat manusia yang sudah dipilih untuk diselamatkan oleh Allah. untuk memberikan kebahagiaan manusia bersama Allah, maka Allah berinisiatif mencari manusia yang telah kehilangan kemuliaannya dengan menurunkan Diri-Nya kedalam dunia ciptaan dan mengambil seorang hamba menjadi manusia dan taat sampai mati pada akhirnya Dia bangkit untuk menggambarkan dan memberitahukan bahwa Dia adalah Allah itu sendiri yang tidak dapat mati. Kalau saya tanya, dimanakah harta orang Kristen yang sesungguhnya? Saya menjawab yaitu didalam Kristus Yesus, siapakah harta itu? Yaitu Yesus Kristus sendiri. Apa sebabnya orang Kristen harus menjadikan Kristus sebagai satu-satunya harta yang tiada terhitung jumlah nilainya? Sebabnya ialah karena Kristus memberikan diri-Nya sebagai harta terbesar sebagai tebusan dosa manusia agar manusia didamaikan kembali dengan Allah supaya menjalin relasi yang baik dan beroleh kebahagiaan terbesar. Orang Kristen yang sering menyelewengkan imannya hanya karena sebab harta dunia menggiurkan dia dengan tawaran “tinggalkan Kristus maka engkau akan kaya” lalu ia meninggalkan Kristus dan jauh dari Kristus saya percaya Tuhan menghukum dia sampai dia kembali kepada Tuhan. Tuhan itu adalah Tuhan yang adil dan kasih-Nya bukanlah kasih yang dapat berubah-ubah. Kristuskah atau hartakah? Engkau memilih hidup dalam Kristus maka relalah engkau menderita memikul beban dan penderitaan dalam kebahagiaan Kristus. Dapatkah orang yang menderita disebut bahagia? Secara alamiah tidak bisa. Tetapi Alkitab berkata lain “berbahagialah jika kamu menderita dan dianiya oleh sebab Aku, maka engkaulah yang empunya kerajaan sorga” berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, sebab mereka yang empunya kerajaan Allah. berbahagialah orang yang membawa damai maka mereka akan disebut anak-anak Allah.” Alkitab berkali-kali mencatat berbahagialah. Apabila engkau menyikapi penderitaan itu sebagai jalan untuk memperoleh harta yang kekal didalam Kristus maka tak mungkin engkau tidak disebut sebagai orang yang bahagia. Pengabdian terbesar orang Kristen ialah hidup didalam Kristus. “Mengikut Kristus bicara kekayaan didalam dunia, harta didalam dunia.” Ajaran-ajaran tersebut bukan ajaran Alkitab dari Firman Tuhan. Melainkan ikut Kristus pikullah salib artinya pikullah beban. Untuk meringankan beban itu maka Tuhan Yesus berkata “Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan berikan kelegaan kepada kamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Kalimat ini mendidik, kalimat ini mengajar, kalimat ini memberikan pemahaman yang Tuhan jelaskan secara dalam dan bersifat keinginan Tuhan bahwa manusia untuk bisa menanggung beban adalah belajar dari Tuhan Yesus Kristus. Dimanakah harta terbesar? yaitu didalam Kristus. Dimanakah harta dunia? Yaitu melawan Tuhan dan berikan diri kepada iblis maka hidupmu menjadi binasa. Orang Kristen terlalu menganggap pengorbanan Kristus dikayu salib sama seperti dia berkorban kepada anak-anaknya. Pengorbanan Kristus sama dengan pengorbanan manusia. Nah orang Kristen yang sering berpikir seperti inilah dapat menyebabkan dia menjauh dan menjual Tuhan dengan hartanya dan keinginannya. Kurangnya pemahaman pengorbanan dikayu salib mengakibatkan orang Kristen pergi dari Tuhan dan mengambil jalan yang salah. Orang Kristen yang sejati bukan orang Kristen yang munafik, orang Kristen yang sejati bukan orang Kristen yang ciut imannya karena melihat penderitaan yang berat dalam hidupnya. Tetapi orang Kristen yang sejati ialah mereka yang hidup dalam ajaran Tuhan. Penderitaan Tuhan ijinkan terjadi agar mereka beroleh cinta yang harmonis dan kepuasan yang besar melihat kebahagiaan dan harta yang kekal serta kelimpahan didalam Kerajaan Allah. Amin...