I am pleased with the teaching pastor
Kee, he made me understand about the discussion he was referring to. Before
studying counseling from pastors Kee and before you came, I was not happy to
learn that personal counseling, because I did not enjoy learning about other
people cope with the problem, because I do not like because I was too much
trouble, especially given the way I take care of other people's problems suss .
because my mind has been troubled all mankind so it's reasonable because it
falls into sin. I was nervous when the priest came, when so much time to follow
my lectures so happy because it turned out to be very important, especially as
a minister, I have to learn. like it or not I have to keep learning from his
college pastor Kee. thank you pastor, this lesson is useful for my future, I
see the soul of the father is fit to be a teacher and motivator to everyone who
experienced weakness. priest can also understand the circumstances of others
who are in the collapsed state, and I saw a priest trying to find a way out
other people's problems that are being experienced. once again thank you very
much pastor, come again I learned a lot from the way a priest, I am also very
thankful that I've been in counseling with the pastor ... heheee do not forget the
donuts again yes pastors, priests okay God bless all of its services. Amen.
Rabu, 16 April 2014
Minggu, 13 April 2014
7 Perkataan Agung Kristus dikayu Salib, Ryan F.
Sepanjang
sejarah dalam kehidupan manusia, Kekristenan selalu ingin dihapuskan dari muka
bumi yang diciptakan Tuhan ini. Banyak cara mereka mencoba mendobrak
Kekristenan untuk menuju kepada kebinasaan namun tak dapat. Sebelum Kekristenan
berdiri maka pemimpinnya harus dibunuh dan mati, pemimpinnya mengalami siksaan
yang ganas. Siapakah pemimpinnya itu? Tidak lain yaitu Yesus Kristus. Sebelum
orang Kristen hidup dalam tekanan yang kejam dan ganas, maka pemimpinnya
terlebih dahulu harus mengalami penyiksanaan dan penganiayaan, sebelum orang
Kristen dianiaya dan di fitnah, maka pemimpinnya terlebih dahulu ditutup
muka-Nya, diludahi wajah-Nya, dihakimi oleh dunia. Dunia yang tidak adil harus
menghakimi Dia yang sumber dari keadilan yang sejati. Sebelum orang Kristen
mati menjadi martir, maka yang pertamakali mati adalah Yesus Kristus pemimpin
besar yang agung dalam sejarah Kekristenan sebelum Kekristenan lahir. Mereka
yang hidup pada zaman-Nya waktu itu mungkin mengalami keputusasaan, sebab
pemimpin mereka yang besar mati tergantung dikayu salib. Banyak mereka yang
meninggalkan Dia lalu kembali kepada Dia, banyak orang yang mencoba
mengikut-Nya banyak juga orang yang ingin membunuh-Nya hingga akhirnya Ia harus
mengalami ketidakadilan dari dunia yang tidak adil. Firman yang berseru-seru
dipinggir-pinggir jalan kini diam, firman yang berteriak diatas perahu dan
kapal kini mulai diam sunyi dan tak berbicara, firman yang tadinya keluar dari
mulut-Nya dengan memanggil orang untuk kembali kepada Allah kini tidak
terdengar lagi. Saat Yesus Kristus berada didepan Pilatus dan para imam ahli
Taurat serta orang Farisi lainnya Ia tidak berbicara banyak, saat didepan
Herodes pula sama sekali Ia tidak berbicara. Mengapakah saat itu Yesus Kristus
Sang Juruselamat Dunia tidak lagi berbicara dan berfirman? Ini adalah salah
satu sifat Allah, ketika Ia melihat manusia mencoba dan berusaha melampaui
keberadaan-Nya maka Allah akan diam. Yesus Allah? Dia Allah, Pilatus sempat
bertanya “apakah Engkau Anak Allah? jawab Yesus: engkau sendiri yang
mengatakannya. Saat-saatnya tiba Yesus mulai dibawa kepada satu bukit yang
sangat mengerikan, bukit itu ganas dan kejam, bukit tengkorak adalah julukannya,
mengapa disebut bukit tengkorak? Karena setiap kali orang melihat bukit itu
banyak lobang-lobang besar dan permukaannya serta gambar bukit itu sering
menyerupai tengkorak. Dalam perjalanan yang melelahkan, Ia harus berjalan
sepanjang jalan dimana banyak orang melihar Dia. Tadinya Ia berkata diri-Nya
Raja kini ditawan dan pukul serta dicambuk, dipermalukan oleh manusia, dan
ditelanjangi tubuh-Nya, mereka membagikan jubah-Nya dan mereka membuang undi.
Alkitab memberitahukan kepada kita Yesus tidak berteriak saat paku pertama
ditancapkan ketangan-Nya, Ia tidak marah dan mengutuki siapa-siapa saja yang
menyiksa dan menista Dia. Inilah teladan Juruselamat kita yang paling agung
didalam sejarah. Saat semua sudah dipakukan, maka salib mulai ditancapkan
kedalam lubang tanah dan berdiri menghadap kepada orang banyak. Yesus tentu
merasakan sakit, Dia sama seperti kita manusia, hanya Ia tidak berdosa, Ia bisa
sakit, Ia pernah lapar, Ia pernah haus, Ia pernah bahagia, Ia pernah terluka,
dan Ia juga pernah menderita. Tuhan yang kita sembah, bukan Tuhan yang tidak
dapat merasakan penderitaan yang kita alami, sebelum kita mengalaminya Ia sudah
mengalaminya. Saat Allah marah dengan nyala api yang membara untuk manusia,
maka Yesus (Allah Anak) mengambil keputusan bahwa Ia mau menggantikan manusia
berdosa. Saat dikayu salib, Alkitab tidak mengatakan Yesus mengutuki orang yang
memaku Dia, Yesus tidak marah kepada mereka, Yesus tidak dendam kepada mereka,
Yesus tidak meminta kepada Bapa agar mereka musnah. Melainkan ada satu firman
yang keluar dari mulut Sang Juruselamat yang Agung dan mulia, kalimat yang
manis, doa yang indah disepanjang sejarah para nabi, kalimat itu keluar dengan
penuh manisnya sehingga membawa damai sejahtera bagi setiap hati manusia.
Kalimat itu berbunyi demikian untuk yang pertama
kalinya “ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka
perbuat.” Tadinya saat berada dikayu salib, orang banyak yang ada menyaksikan
Dia telah menantikan seruan dari Yesus apakah Ia akan menyelamat diri-Nya
dengan berseru kepada Bapa, apakah Ia dapat turun dengan mujizat-Nya? Ternyata
Yesus Kristus yang mereka harapkan tidak berkata apa yang mereka inginkan,
melainkan apa yang di inginkan Yesus untuk mereka dengan berkata Ya Bapa
ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Inilah doa
yang paling manis, Doa Yesus kepada Bapa, agar Bapa tidak melampiaskan
murka-Nya keatas manusia, melainkan untuk Dia yang adalah Anak Allah. sambil
menunggu Dia berkata-kata lagi, mereka kembali mengutuk Dia, memfitnah Dia,
meninggalkan Dia dan mencaci maki Dia. Kita dapat bayangkan bila anda seorang
diri sebagai ayah mendengar anak anda dihina dan dianiaya oleh orang lain yang
tidak berhak menghukum dia, mungkin anda akan membunuh mereka yang membuat ia
menderita. Tetapi Bapa tidak, setelah Bapa mendengar ucapan Yesus yang pertama
dikayu salib “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka
perbuat” maka Bapa mengerti betapa dalam-Nya kasih Kristus terhadap manusia.
Dimanakah cinta kasih yang sejati? Yiatu didalam Kristus Yesus. Perkataan kedua ialah “Amin, Aku berkata
kepadamu, hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus”,
perkataan yang ketiga “Ibu,
ini anakmu... ini ibumu”, perkataan yang keempat
“Allah-Ku-Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, perkataan yang kelima ialah “Aku haus”, perkataan yang
keenam ialah “Sudah genap” dan
perkataan yang ketujuh ialah “Bapa,
kedalam tangan-Mu, Ku-serahkan Nyawa-Ku.”
Banyak
pemuda-pemudi meninggalkan Kristus dan banyak yang tidak mau melayani lagi
dalam segala kegiatan didalam Gereja, mengapa? Karena tidak pernah memiliki
suatu penghayatan yang sejati dan merenungkan serta memahami arti penderitaan
serta pengorbanan yang begitu besar dilakukan Yesus Kristus dikayu Salib.
Mereka tidak adanya bedanya dengan apa yang dikatakan Paulus “mereka sengaja
berperilaku seperti orang yang mengenal
Allah, padahal mereka tidak mengenal Allah. pemuda-pemudi gereja yang bertahan
setia sampai hari ini dalam gereja dan lingkungan gereja dan yang masih mau
dididik oleh Tuhan berbahagialah, sebab jerih payahmu tidak sia-sia. Tapi
celakalah bila engkau melayani Tuhan dengan hati yang hampa tanpa ada Roh Tuhan
didalam hatimu, maksudnya ialah seperti orang-orang yang melayani Allah tapi
tidak mengerti Allah. saat ditanya siapakah Allah? jawabannya apa? Bingung.
Mengapa bingung? Karena tidak suka mendengarkan firman Tuhan saat pendeta
sedang menyampaikan firman yang mencerahkan hati sanubarimu. Sudahkah? Engkau
mengenal Allah? hei para muda-mudi, pikirmu engkau baik selama ini? Cintakah engkau
kepada Tuhanmu Yesus Kristus? Apakah kasihmu besar kepada-Nya? Masihkan cinta
kasihmu kepada-Nya tetap adalah kasih yang mula-mula? Atau apakah kasihmu sudah
berkurang? Saat kasihmu berkurang maka engkau mulai jauh dari kehidupan gereja,
disitulah saatnya iblis datang menelan jiwamu. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Senin, 07 April 2014
Pernikahan Yang Sejati, Ryan Frinandoe.
Salah satu tujuan akhir
setelah melewati masa berpacaran, manusia harus berpikir “sudah saatnya saya
menikah” tapi saya bertanya, siapkah manusia menuju kepada pernikahan? Jika ya
sudahkah memikirkan apa tujuan hidup itu menikah? Apa yang menjadi motivasi
mengapa harus menikah?
Banyak fakta dipanggung dunia dalam dunia pernikahan
hancur, banyak juga yang menjalin bahagia. Sebab cara manusia masing-masing
berbeda menjalaninya. Saya memberitahukan kepada kamu bahwa menuju kepada
pernikahan bukan sesuatu sikap dan tindakan serta keputusan yang main-main,
sebelum pernikahan dijalani, maka berpikir dengan rasio untuk bertanya dalam
hati sanubari, “sudah siapkah saya menikah?” mengapa saya berkata pernikahan
bukan suatu tindakan dan keputusan yang main-main? Sebab dalam pernikahan ada
satu janji yang mengikat yang tidak boleh diputuskan oleh manusia, yang tidak
boleh di pisahkan oleh manusia. Jika manusia melakukannya maka manusia
mengingkari perjanjian pernikahan. Pernikahan yang ingin dicapai manusia adalah
kehidupan pernikahan yang bahagia, tidak ada lain. Dalam pernikahan versi
Kekristenan pada waktu pendeta bertanya “manusia apakah engkau siap bersedia
membahagiakan pasanganmu baik waktu senang dan sedih, baik sehat dan saat sakit
engkau akan merawatnya? Apa jawab manusia itu “ya saya bersedia, dan saya akan
mengasihinya serta membahagiakannya dan merawatnya baik saat sehat dan sakit.”
Janji ini bisa dipenuhi ketika masuk dalam pernikahan, jika selama hidup dalam
pernikahan janji ini tidak dijalani, maka akhirnya pernikahan itu rusak.
Dimanakah pernikahan yang sejati? Pernikahan yang sejati itu ada dan hadir
ketika manusia menaklukkan dirinya kepada kebenaran Allah, takluk kepada
perintah dari Allah dan menerima dengan rendah hati setiap mandat dari Tuhan
Allah. pernikahan yang sejati adalah pernikahan yang diberkati oleh Tuhan,
pernikahan yang sejati adalah seperti Allah memelihara manusia untuk hidup
dalam kebahagiaan sejati, maka pernikahan yang sejati tidak mungkin akan goyah
saat goncangan dari luar datang bahkan dari dalam. Pernikahan dalam konteks
Kekristenan adalah pernikahan yang menaruh seluruhnya dan seluruhnya dalam
ketundukan kepada Allah. Bagaimanakah pernikahan yang sejati? Pernikahan yang
sejati muncul saat manusia tetap setia kepada pasangannya, sebagaimana Allah
setia kepada manusia. Pernikahan dilihat oleh Tuhan, pernikahan juga dipelihara
Tuhan agar menjadi kebahagiaan yang indah serta harmonis. Ada satu unsur yang
melengkapi dalam menjalani kebahagiaan yang sejati yaitu kesetiaan. Kesetiaan
kepada janji pernikahan, maka disinilah manusia dituntut untuk tetap menjadi
pasangan yang setia dan penuh kasih sayang. Ada satu unsur terutama yang paling
tertinggi dalam segala aspek moral hidup manusia serta kebudayaan yang dapat
bersatu meskipun ada perbeadaan, yaitu unsur menaruh seluruh perjalanan hidup
dalam kehendak Tuhan. Pernikahan sejati adalah pernikahan yang membara
menyalakan obor api semangat untuk memenuhi janji kesetiaan kepada satu
pasangan. Henri Ward Beecher berkata “cinta yang masih baru adalah bagaikan
sebuah api” tetapi saya berkata cinta dalam pernikahan yang sejati adalah cinta
yang terpelihara sampai kepada titik nafas hidup selesai. Inilah pernikahan
yang sejati. Tuhan Yesus memberkati.
Minggu, 06 April 2014
MANUSIA MULIA & MANUSIA BERDOSA, Ryan Frinandoe
A.
Status
Manusia Mulia.
Dalam bab pertama kita sudah membahas tentang
manusia yang adalah peta dan teladan Allah. Dalam status itu manusia sedang
berada pada tahap yang paling tinggi dan sedemikian indah serta mulia adanya,
sebab manusia adalah bersih, suci, kudus, mulia dan penuh dengan bahagia serta
relasi yang begitu dekat dengan Tuhan Allah. Keberadaan manusia didalam status
mulia, manusia memiliki cinta kasih kepada Allah, setiap hari Allah mengajar
manusia, setiap hari Allah berjalan dengan manusia, setiap hari Allah
mengetahui kedalam hati manusia. Status mulia ini adalah status yang didalamnya
manusia memiliki potensi melebihi potensi mahkluk lainnya.
Status manusia yang mulia juga mempunyai unsur
teladan Allah, kehadiran diri Allah, kemiripan dengan Tuhan Allah, memiliki
beberapa sifat yang dapat saya simpulkan didalam bab pertama yaitu manusia
memiliki sifat cinta kasih, keadilan dan kebenaran. Status ini tidak dimiliki
oleh mahkluk lainnya, melainkan hanya manusia. Apakah manusia dalam status ini
memiliki kebudayaan? Ada, kebudayaan itu murni dan sejati adanya. Kebudayaan
itu dilihat dari tindakan manusia dalam kesehariannya berinteraksi kepada Tuhan
Allah, dirinya sendiri, sesamanya dan dengan alam semesta serta mahkluk lainnya
baik yang diatas dan yang dibawah. Saat Adam dan Hawa di Taman Eden, saya
membayangkan mereka menjalin hubungan cinta kasih yang begitu indah, baik cinta
kasih kepada Tuhan Allah dan kepada keduanya sama-sama saling memiliki cinta
kasih. Maka status manusia yang mulia itu adalah status yang bersih tanpa cela.
B. Manusia dan Iman.
Apa maksud Allah mewahyukan iman kepada setiap
manusia? Jawabannya ialah agar manusia memiliki suatu keyakinan yang mutlak.
Membicarakan tentang iman adalah membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan
Allah juga. Iman itu tidak akan ada jikalau Allah tidak memberikannya kepada
manusia, iman seperti apa yang Tuhan berikan pertamakali kepada manusia? Iman
kepercayaan kepada Tuhan Allah bahwa Tuhan Allah itu ada. Stephen Tong
mengatakan “iman adalah suatu pengarahan rohani kepada Tuhan kembali.”[1]Kaitan
manusia dengan iman tidak boleh dilepas, setiap manusia sudah diberikan iman,
iman yang sejati adalah iman dimana manusia sungguh-sungguh berpegang pada
keyakinannya bahwa Tuhan adalah oknum tertinggi dan paling mulia dari dirinya.
Suatu agama yang dibangun atas doktrin tidak dapat disebut agama bila agama
tersebut tidak membicarakan iman. Iman merupakan keyakinan dimana Allah
bereksistensi diatas ruang yang melampui akal perasaan manusia, inilah iman. Sejak
manusia masih dalam status mulia iman yang ada dalam diri manusia itu iman yang
sejati dan murni adanya, maka manusia tidak boleh melepaskan unsur mutlak ini
dari dalam dirinya.
C. Manusia dan Rasio.
Dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia kita telah
melihat perjalanan hidup manusia yang disebut mahkluk rasio. Manusia bukan saja
manusia yang mulia didalam statusnya melainkan manusia merupakan mahkluk yang
berpikir dengan menggunakan rasionya. Inilah bedanya manusia dengan binatang.
Stephen Tong mengatakan didalam bukunya “teori evolusi berusaha mencari
persamaan antara manusia dan binatang. Teologi justru berusaha menyatakan
perbedaan antara manusia dan binatang. Alkitab telah memberikan pengertian
tentang diri manusia yang sedemikian tuntas dan jelas, sehingga hak asasi
manusia akan dihargai, jika manusia betul-betul mengerti. Manusia adalah
manusia, binatang adalah binatang.”[2]
Manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan berintelektual ini adalah manusia
yang mampu membedakan segala sesuatu tentang dirinya dengan mahkluk lain. Dalam
pemikiran Mencius (371-288), ia memiliki suatu gaya corak pikiran mengenai
manusia ia mengatakan “semua orang berpikir secara mendalam pasti memikirkan
apakah dan siapakah sebenarnya manusia itu” ketika saya meneliti sejarah
pandangan Mencius ini saya menyadari bahwa dari sejak zaman dahulu kala, baik
kebudayaan Barat dan Timur sudah berusaha merumuskan perbedaan antara manusia
dan binatang dengan semua mahkluk lain. Oleh karena itu, didalam kebudayaan
Timur Mencius sebagai penerus Konfusius (551-479), menegaskan bahwa manusia
berbeda dari binatang karena manusia memiliki hati nurani dan pikiran (rasio).
Manusia memiliki rasio, bintang memiliki insting.
Setelah membahas ketiga hal diatas
dimana manusia sebagai manusia yang memiliki status mulia, kini saya akan
membahas keberadaan status manusia didalam keberdosaan.
D. Status Manusia Berdosa.
Dalam status yang tadinya mulia dan indah serta
relasi yang baik dengan Tuhan Allah yang segala sesuatunya itu baik adanya,
kini akhirnya manusia terjerumus kedalam pengajaran setan yang membawa manusia
itu jatuh kedalam dosa. Status yang tadinya mulia kini menjadi rusak dan
manusia kehilangan status sebagai mahkluk yang mulia lagi, namun tidak
mengurangi keberadaan dirinya dalam status sebagai peta dan teladan Allah. Kerusakan
yang terjadi mencakup banyak aspek dan nilai-nilai moralitas serta kebudayaan
manusia.
E. Status yang Rusak.
Dalam status yang berdosa ini maka saya menggunakan
status yang rusak didalam diri manusia, sebab ketika manusia mengalami
kejatuhan manusia bukan saja merusak diri, melainkan merusak seluruh sistem
nilai kemanusiaannya dihadapan Tuhan Allah. Dalam status yang rusak itulah
manusia mulai menyimpang dari kebenaran yang sejati. Kebenaran yang sejati
tidak ada lagi didalam diri sebab kebenaran sejati itu sudah rusak dan
mengalami distorsi dosa. Suatu hari saya merasa diri saya sudah mandi, setelah
mandi saya merasa bersih, tapi ketika saya mulai membersihkan parit maka semua
anggota tubuh saya dan saya terserang penyakit, maka inilah namanya rusak
kebersihan saya dan mengalami pencemaran lingkungan dalam diri saya, akhirnya
saya kena penyakit. Maka saya rusak. Ketika status itu rusak, maka akhirnya
inilah sebagai contoh bagi kita sebagai manusia yang telah mengalami status
rusak. John Calvin mengatakan “manusia yang telah berdosa telag mengalami
kerusakan total”[3] dengan istilah tersebut ia
menggambarkan bahwa manusia itu sangat rusak sekali, dalam keadaan status rusak
maka manusia merusak hubungan dia sendiri dengan Tuhan Allah.
F. Kebudayaan dan Agama.
Munculnya kebudayaan ketika manusia membiasakan diri
hidup bergaul dengan Tuhan Allah dan alam. Tetapi kita telah melihat kerusakan
status akibat dari dosa ternyata merusak sistem kebudayaan manusia antara Allah
dan dengan alam juga. Tadinya kebudayaan itu baik, dan sistem perjalanan dari
budaya kepada kebudayaan itu baik serta teratur, namun kini telah rusak.
Manusia merusak, manusia melawan perintah dari Sang Pencipta. Akibat kerusakan
itu maka manusia mulai takut kepada Tuhan Allah dan akhirnya bersembunyi, maka
Tuhan datang mencari manusia yang berdosa itu untuk meminta pertanggungjawaban,
tetapi mereka tidak bisa, maka Allah mendatangkan kutuk yang sampai hari ini
dijalani oleh manusia. Kebudayaan yang telah rusak maka akhirnya manusia
berusaha mencari Tuhan Allah dengan bermacam cara untuk mengembalikan hubungan
itu kembali, maka manusia menciptakan agama. Pikir manusia dengan adanya agama
maka manusia bisa bertemu dengan Tuhan Allah. namun sepanjang sejarah kita
telah melihat keadaan manusia yang hidup beragama nyatanya tetap tidak bisa
menemukan Tuhan Allah dengan cara itu. Maka akhirnya tidak ada cara lain,
sesuai dengan janji-Nya Tuhan Allah (Kej. 3:15), maka Allah mendatangkan
Kristus. Dalam Kristus itu Allah sendiri yang datang untuk menjelma menjadi
manusia agar manusia bisa bertemu dengan Tuhan Allah. Barangsiapa percaya
kepada Kristus maka ia akan bertemu dengan Yesus dan diselamatkan.
Selasa, 01 April 2014
MANUSIA & PENDERITAAN, Ryan Frinandoe
A.
Pengertian
Penderitaan.
Affliction
(penderitaan, kesusahan, kemalangan, dan derita) kata penderitaan yang
merupakan kata yang mengandung gambaran keadaan diri manusia ketika mengalami
masalah yang cukup berat didalam dirinya, sehingga kata penderitaan
mempengaruhi diri manusia untuk masuk kedalam suatu lembah yang suram, penuh
dengan sengsara untuk mencari pertolongan dan belas kasihan. Penderitaan adalah
derita, susah, malang. Apakah menderita itu bahagia? Apakah bahagia itu
menderita? Kita telah melihat keadaan manusia disepanjang sejarah kehidupan,
kita juga telah melihat keberadaan hidup yang menderita tidak ada
henti-hentinya untuk manusia menjalaninya. Dengan kata ini dan pengertiannya
kita mendapat suatu gambaran dan beberapa pertanyaan yang menjadi fokus dari
isi bab ini, sebab itulah kata itu adalah penderitaan.
B.
Permulaan Penderitaan.
Permulaan
penderitaan datang bukan disaat zaman Kaisar, Hilter, Nicci, abad 16, abad 21
sekarang, bukan. Tetapi permulaan penderitaan datang yaitu disaat Allah
menjatuhkan hukuman serta kutuk kepada binatang (ular), manusia dan bumi.
Binatang yang pertamakali mendapat kutukan adalah ular, Allah mengutuk dia
untuk berjalan dengan perutnya. Kemudian manusia akan bersusah payah mencari
rejekinya dengan sampai berpeluh/keringat banting tulang untuk bekerja, hal ini
khusus untuk laki-laki. Kemudian yang kedua kepada perempuan, maka pada saat ia
mengandung Tuhan membuat ia kesakitan untuk melahirkan dan bukan saja itu Tuhan
memerintahkan manusia harus beranakcucu. Maka disinilah kita melihat permulaan
penderitaan yang datang, semua keadaan macam begini adalah cara Allah agar
manusia bertanggung jawab atas kelakuannya yang telah melawan Tuhan Allah.
melawan Tuhan bukan dalam arti marah, jengkel, tetapi dimana manusia tidak taat
dan setia kepada firman-Nya maka disitulah letak perlawanan manusia kepada Tuhan.
Penderitaan selanjutnya dialami oleh anak dari Adam dan Hawa yaitu Kain dan
Habel, Habel mengalami penderitaan saat disiksa kakanya sampai mati, akibat
dari penderitaan itu sampai-sampai Alkitab mencatat dengan jelas bahwa darah
Habel berteriak sampai di Tuhan. Maka Kain menerima penderitaan didalam batin
ia sendiri, ia harus ketakutan yang luar biasa, kalau-kalau Tuhan juga membunuh
dia, tetapi tidak demikian, karena permintaannya Allah mau memberi tanda kepada
dia agar ia tidak dibunuh. Meskipun ia tidak mati ditangan manusia, maka
keturunannya lenyap sampai hari ini tidak berlanjut lagi, akibat kejahatan
Kain, maka keturunannya lenyap karena mengalami penderitaan. Sejak kapankah
letak permulaan penderitaan itu datang? Yaitu disaat manusia mengalami kejatuhan
dan kerusakan status.
C.
Tujuan Hidup Manusia.
Sepanjang
sejarah umat manusia dimuka bumi ini, kalau ditanya apakah tujuan mu hidup?
Pasti jawabannya tidak lain dan tidak bukan pasti mencapai tujuan hidup
bahagia. Kalau ditanya lagi apakah yang kamu inginkan didunia ini? Pasti jawabannya
ingin hidup bahagia, kalau ditanya lagi mengapakah kamu tidak mau hidup
menderita? Jawabannya pasti karena penderitaan itu bukan tujuan hidup, karena
itu adalah sesuatu yang paling kutakutkan dalam hidup ini. Dalam khotbah saya,
saya mengatakan “Penderitaan bukanlah tujuan akhir, kabahagiaan adalah tujuan
akhir.” Kalimat ini merupakan kalimat yang tuntas dapat dimengerti oleh semua
orang sebab memang benar bahwa tujuan hidup ini adalah mencapai bahagia. Dalam
dunia filsafat, ada satu filsafat Epikurianisme yang berbunyi begini “tujuan
hidup ini, kita harus mencari bahagia. Kalau tidak bahagia maka kita menderita,
menderita bukan bahagia, dan bahagia bukan menderita.”[1]
Filsafat ini baik adanya, namun banyak orang salah melaksanakannya, yang
akhirnya filsafat ini tidak dapat dipakai lagi, meskipun tidak dipakai lagi
tetapi prinsipnya banyak dilakukan manusia dengan kurang sadar bahwa dirinya
menganut paham Epikurianisme. Maka disinilah kita melihat bahwa manusia
berusaha menghilangkan penderitaan, karena penderitaan bukan tujuan hidup,
melainkan kebahagiaanlah tujuan hidup.
D.
Penderitaan didalam Kebudayaan.
Apakah
hubungan penderitaan dengan kebudayaan, sehingga ada penderitaan didalam
kebudayaan. Sewaktu sebelum saya pergi ke sekolah Alkitab, saya setiap kali
pulang sekolah ketika SMA harus pergi ke hutan mencari kayu bakar, setelah itu
saya menyedap karet, sebab itu adalah salah satu mata pencaharian kami dalam
hidup pada waktu itu. Saya dan orang tua harus berjuang untuk mencari rejeki
agar bisa memenuhi kehidupan sehari, saya pribadi merasa menderita, mau tidak
mau harus dilaksanakan, maka dibalik kebudayaan itu ada sesuatu yang
tersembunyi yang dapat saya sadari yaitu penderitaan. Kebudayaan untuk memenuhi
kehidupan sehari-hari adalah gaya kehidupan setiap orang, yang didalam
melaksanakannya manusia harus melalui suatu penderitaan dan menyikapi
penderitaan itu dengan tenang meskipun kesusahan menghadapinya. Seorang petani
menunggu hasil dari ladangnya, namun ketika kemarau datang maka ladangnya
mengalami kekeringan, ia harus berjuang mendatangkan banyak air untuuk
disalurkan keladangnya entah dengan berbagai cara ia harus mendatangkan air.
Maka disinilah budaya itu terlihat dengan menggunakan akal budi, namun ada satu
hal yang harus dilalui terlebih dahulu yaitu penderitaan. Jika tidak demikian
maka petani itu menderita tidak makan hasil dari ladangnya, maka dalam
penderitaannya ditambah lagi, akhirnya beratlah penderitaan itu. Ada satu
seorang filsuf terkenal dengan filsafatnya yaitu Confusius, filsafatnya
berbunyi “tujuan manusia menurut
Konfusianisme
adalah mencapai keharmonisan ataupun keseimbangan. Keharmonisan dengan alam dan
juga keharmonisan dengan sesama manusia.”[2]
E.
Penderitaan Akibat Dosa.
Ketika
seseorang mengalami penderitaan, pertanyaan yang keluar ialah “mengapa saya?,
mengapa harus saya?, mengapa diri saya yang menderita penderitaan ini?,”
Stephen Tong mengatakan “hal ini adalah perasaan yang sendiri, perasaan yang
tidak seharusnya, perasaan kehilangan sesuatu, dan perasaan yang tersiksa,
semua itu menjadi rangsangan kesadaran eksistensi setiap pribadi.”[3]
Penderitaan macam ini perlu dipertanyakan mengapa penderitaan akibat dari dosa?
Dosa adalah penyebab pertama adanya penderitaan, saat manusia menerima tawaran
Iblis maka manusia akhirnya memiliki keberadaan seperti iblis yang suka
melawan. Yang membuat manusia jatuh kedalam dosa adalah disaat manusia melawan
perintah Tuhan Allah. Fakta pertama orang bisa jatuh kedalam dosa adalah saat
ia mencoba melawan Tuhan dengan kelakuannya yang sombong dan kebohongan, satu lagi
ialah ia tidak hendak TAAT kepada perintah Tuhan Allah. jikalau kita bertanya
kepada orang lain “apakah engkau berdosa? Jawabnya ia saya berdosa” karena ia
sadar bahwa ia berdosa maka kita juga sadar bahwa kita manusia berdosa, karena
kita sama dengan dia. Penderitaan akibat dari dosa ini jelas, sebab penderitaan
adalah hukuman yang Tuhan berikan kepada manusia yang memberontak.
F.
Penderitaan Bukan Akibat Dosa.
Bila
kita mengingat peristiwa penggenapan janji penebusan dari Allah dengan mengirim
Kristus kedalam dunia maka kita akan melihat dan sadar bahwa Yesus tidak
berdosa mengapa ia harus menderita. Penderitaan yang Kristus alami bukan
penderitaan yang biasa yang dirasakan manusia biasa seperti kita, tetapi
penderitaan yang Dia alami adalah penderitaan yang sedemikian hebat dan dasyat.
Bagi manusia itu adalah kabar Baik, tetapi bagi Kristus Dia harus menderita
memikul dosa manusia ke atas tiang salib dengan tubuhnya, maka tubuhnya
diremukkan sebagai wujud dari murka Allah kepada manusia yang ditimpakan kepada
Dia. Bila kita mengingat peristiwa Ayub, Ayub dikenal seorang yang saleh
dihadapan Tuhan Allah, dan ia berlaku benar di masa hidupnya. Penderitaan yang
Tuhan ijinkan kepada Ayub adalah penderitaan yang lumayan hebat juga, namun
penderitaan yang ia alami itu tidak membuat dirinya menjadi seorang Atheis,
justru ia melihat penderitaan itu sebagai suatu tindakan Allah untuk melihat
kesetiaannya sendiri. Namun kita melihat manusia zaman ini lebih banyak
brengsek dan tidak berpegang kepada prinsip Alkitab Firman Tuhan Allah yang
Hidup. Sedikit-sedikit penderitaan datang langsung mau meninggalkan Tuhan, mau
menjadi Atheis, dan akhirnya menjadi murtad sampai mati dendam kepada Tuhan.
Manusia yang macam begitu bukan manusia yang baik dan setia kepada Allah, manusia
yang setia kepada Allah adalah manusia yang sadar dimana penderitaan itu datang
bukan akibat dosanya tetapi karena Allah ingin menguji kekuatan imannya.
G.
Hakekat Penderitaan.
Jika
saya bertanya: penderitaan itu sebenarnya ada atau tidak? Jika kita sebagai
manusia merasa menderita, maka apakah itu berarti itu pasti ada penderitaan,
ataukah ada penderitaan, maka baru manusia merasa menderita? Maka kita secara
sadar menjawab dengan jujur “tentu, ada penderitaan, maka barulah kita
merasakan penderitaan. Ada seorang anak kecil yang menangisnya luar biasa
hampir 10 menit ia tidak berhenti menangis karena ia digigit nyamuk, dan ia
gatal-gatal. Bagi anak itu, digigit nyamuk adalah penderitaan karena
gatal-gatal. Tetapi bagi ayah itu bukan penderitaan, sebab sang ayah bukan saja
mengerti penderitaan yang dialami oleh anaknya, tetapi ia juga tahu batasan
penderitaan itu, ia tahu beberapa menit lagi penderitaan digigit nyamuk akan
hilang dan tahu bahwa penderitaan itu tidak akan mendatangkan kematian. Jadi
hakekat penderitaan itu adalah dimana kita mengerti akan batas-batas
penderitaan lebih penting dari pada perasaan menderita. Stephen Tong mengatakan
didalam bukunya begini “hakekat penderitaan itu ialah adanya perasaan
kehilangan kenyamanan yang dulunya kita nikmati.”[4]
H.
Jenis-Jenis Penderitaan.
Ada
tiga jenis penderitaan yang dimuat Stephen Tong didalam bukunya yaitu:
1. Kecacatan
Alamiah. Ada orang yang dilahirkan buta, tuli, bisa atau memiliki tangan kaki
yang tidak sempurna. Ini merupakan penderitaan alamiah yang didapatkan
seseorang ketika ia dilahirkan.
2. Bencana
Alam. Misalnya gunung meletus, air bah, tsunami, gempa bumi, longsor, tanah
terbelah, dan akibat dari bencana alam maka bencana alam menghancurkan apa yang
kita miliki.
3. Bencana
Perang. Yaitu meletusnya kebencian antara bangsa dengan bangsa, yang
menimbulkan berbagai kekejaman di medan perang. Akibatnya, ada orang-orang yang
terkena bom atau peluru sehingga cacat atau mati.
Tiga jenis penderitaan
diatas adalah penderitaan yang besar terjadi didalam sejarah umat manusia
menurut Stephen Tong.[5]
[1]Rian Frinandoe, 2013, Khotbah
Reformasi Kekristenan, AT-APT: Jakarta. Saya memberikan beberapa penjelasan pandangan
ilmu filsafat yang mempengaruhi hidup Kekristenan dari zaman ke zaman. Tapi
kebahagiaan yang dimaksud oleh orang Epikurianisme bukan kebahagiaan yang
sejati, melainkan kebahagiaan yang sementara. Kebahagiaan yang sejati dalam
kehidupan Kekristenan adalah kebahagiaan yang kekal, itu hanya bisa didapatkan
apabila manusia mau kembali kepada Tuhan Allah dengan sungguh-sungguh.
[2] Info Psikologi memberikan
penjelasan kepada publik melalui situsnya mengenai ajaran Confusius, di post
oleh Psychologymania, http://ajaranconfusionisme.com.
[3] Pdt. Stephen Tong, 2011, Iman
Penderitaan dan Hak Asasi Manusia, Momentum: Surabaya, hlm. 36.
[4] Ibid, hlm. 52.
[5] Ibid, hlm. 60.
Yesus Kristus dan Yesus Barabas, (Markus 15:13-14). Ryan Frinandoe.
“Saya sudah bebas, saya
sudah bebas, saya bebas” mungkin kalimat itulah yang ada dalam pikiran Barabas
atau mungkin barangkali ia berteriak menyatakan dirinya telah bebas. Sejarah
telah mengajarkan kita untuk mengetahui peristiwa ini, mengapakah harus
Barabas, tidak adakah tahanan yang lain, mengapakah orang paling jahat harus
dibebaskan dan Yesus yang tidak sedikitpun bersalah harus menerima penghakiman
oleh manusia berdosa? Apakah ini keadilan? Hal ini bukan keadilan, melainkan
kecurangan, hal ini dimata manusia. Bagaimanakah kita menulusurinya sampai
kepada akarnya dari kisah ini? Mari kita akan berdoa dan bersyukur kepada Roh
Kudus yang memperbolehkan kita mempelajari hal ini.
Keberadaan Barabas sebagai penjahat adalah keberadaan dia
sebagai penjahat yang paling kejam, dan dia banyak menyusahkan masyarakat,
kelakuan dia yang tidak bermorallah yang membuat ia ditahan didalam penjara.
Yesus dibawa kedepan Pilatus dan diperhadapkan dengan orang banyak, Ia tidak
takut, sebab Ia tidak bersalah, bahkan Pilatus pun secara sadar bahwa Ia tidak
bersalah, namun Pilatus lebih memihak kepada suara aspirasi rakyat Yahudi untuk
membebaskan Barabas dan menghukum Yesus Kristus. Kebenaran Yesus pada waktu Ia
berkata didalam rumah ibadat (sinagoge) “Roh Tuhan ada pada-Ku, Aku datang
memberitahukan rahmat Tuhan telah datang untuk membebaskan orang yang
tertawan...” kedatangan Yesus dihadapan Pilatus akhirnya membebaskan Barabas,
kedatangan Yesus didepan Pilatus memberikan suatu cahaya cinta kasih yang
sedemikian hebat. Yesus orang yang tidak berdosa harus membebaskan orang
berdosa seperti Barabas. Disinilah bukti pertama bahwa ada orang pertama yang
dibebaskan oleh kuasa kedatangan Kristus menjelang penghakiman atas Dia yaitu
dengan dibebaskan oleh Barabas dari dalam penjara. Barabas adalah orang tawanan
yang paling jahat. Alkitab tidak mencatat kelanjutan kehidupannya lagi setelah
bebas. Mungkin ia bertanya-tanya mengapa saya bebas? Mengapakah saya harus bebas
sedangkan Dia harus disalibkan? Saya berharap Barabas sadar dari dosanya dan
kembali kepada Allah. Tidak ada orang yang dibebaskan dari penjara selain dari
Barabas yang menikmati kebebasan pertamakali didalam Injil melalui persiapan
penyaliban Yesus. Sebab dalam kitab PL belum ada penyataan tentang pembebasan
satu orang diwaktu Paskah. Pilatus sengaja berdusta, dan ia sengaja membuat
peraturannya bahwa ia sengaja mengatakan bahwa kebiasaan mereka untuk
membebaskan satu orang dihari sabat. Apakah yang ada dalam hati Pilatus?
Sebenarnya ia ingin membebaskan Yesus Kristus, dan ia sangat berharap rakyat
Yahudi mengatakan “ya sudah bebaskan saja Yesus” tetapi hati rakyat tetap
meminta Yesus harus dibunuh. Mengapakah harus Yesus yang dibunuh? Karena pikir
mereka karena keberadaan Yesus akan menghapus sistem kebudayaan mereka dan
menghapus hukum Taurat. Ketetapan/kebiasaan tidak ada tertera dalam kitab
Taurat mengenai hari paskah ada pembebasan bagi seorang tawanan, hukum itu
tidak ada, hukum itu hanya akal dari Pilatus saja yang ingin membebaskan Yesus
Kristus namun usahanya gagal total, ia tidak bijaksana dan tidak mengerti
baik-baik. Pilatus adalah seorang budak Kaisar, Pilatus mengetahui peraturan
hukum Taurat, tetapi ia sengaja membuat peraturan baru. Barabas yang hina dan
berdosa yang akan mengalami penghakiman kematian menjelang akhir penghukumannya
kini telah digantikan oleh Yesus, inilah kuasa kedatangan Yesus. Barabas adalah
orang pertama yang bebas dari penjara dalam masa kehidupan Tuhan Yesus. Tapi apakah
Barabas bertobat setelah keluar dari penjara? Yesus menggantikan dia, Yesus mau
menjadi tebusan bagi Dia. Seolah-olah bila diilustrasikan “anak-Ku biarlah Aku
yang menggantikan penderitaanmu, bebaslah engkau dari penderitaanmu”
seakan-akan beginilah kejadiannya. Tetapi kita tidak dapat menjadikannya suatu
doktrin dan berani berkata Barabas telah bertobat, sebab Alkitab tidak
mencatatnya dan menaruh kelanjutan dari hidupnya setelah dibebaskan. Maka kita
hanya berkata “mungkin saja ia bertobat dan memulai hidupnya yang baru, atau
barangkali ia hidup lagi didalam kejatahannya. Namun yang pasti Barabas ditukar
dengan Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah nama dari Tuhan Yesus Kristus
sendiri, Barabas memiliki nama lengkap Yesus Barabas, keduanya ada kemiripan
nama awal. Namun kali ini Yesus Barabas bukanlah orang baik, tetapi Yesus
Kristuslah orang yang paling baik dimasa hidup-Nya.
Pengorbanan Yesus Kristus didalam sejarah bukanlah
pengorbanan yang bersifat main-main, pengorbanan Yesus adalah pengorbanan yang
sejati, maka disinilah kita melihat keadilan Allah untuk menepati janji-Nya
didalam sejarah penebusan melalui Anak-Nya yang Ia kasihi dan kepada-Nya Ia
berkenan. Yesus harus menanggung dosa manusia yang jahat, Yesus mau naik dengan
darah yang mengucur sedemikian hebat, dengan kekuatan yang begitu dasyat untuk
sampai membawa penderitaan manusia keatas kayu salib. Tadinya manusialah yang
harus menanggung penghakiman murka Allah yang bernyala-nyala, namun Yesus
Kristus mau mengambil keputusan agar Ia menjadi pendamai dari murka Allah
terhadap manusia. Diperjalanan menuju golgota Ia harus tahu akan tiba saatnya
penghakiman Allah dimulai atas diri-Nya yang didalam Dia segala dosa manusia
telah dibawa-Nya ke golgota sehingga didalam murka Allah itu Ia meneriman
penghakiman Allah. Semua ini dilakukan Yesus karena Ia mengasihi manusia
berdosa, Allah tidak membenci manusia, tetapi Allah membenci dosanya. Sama
seperti seorang ibu akan membersihkan kotoran dimuka anaknya, ia tidak mau muka
anaknya kotor, maka dengan paksa ia harus membersihkannya karena ia sayang.
Yesus Kristus disalib, dan Yesus Barabas harus dibebaskan oleh sebab kedatangan
Yesus waktu itu mendatangkan sukacita baginya, ini adalah karya Kristus, dengan
melihat wajah Yesus yang begitu sedih penuh dengan darah, Barabas dapat bebas,
sebelum Yesus berada dikayu salib Barabas terlebih dahulu bebas dari
penderitaan. Sekarang apakah saudara bahagia dengan kedatangan dan kehadiran
Tuhan dalam hidup saudara? Jika ya, maka Roh Kudus sudah berbicara dan menghibur
serta bekerja didalam hatimu. Amin.
Sifat Malaikat, Ryan Frinandoe.
Sifat
Malaikat.
1.
Para malaikat disebut sebagai roh-roh
yang melayani. Tidak berbadan jasmani,
namun roh. Alkitab pernah mencatat bahwa mereka pernah memakai tubuh manusia
(kej. 18-19, Luk. 1:26, Yoh. 20:12; Ibrani 13:2.
Kenyataan
ini merupakan peristiwa khusus yang terjadi atas campur tangan “kuasa Tuhan”
didalamnya. Adanya tubuh jasmani dalam penampakan malaikat tidak terlepas dari
otoritas Tuhan yang mengijinkan hal itu dan dalam pengawasan-Nya sebagai
pelaksanaan firman-Nya.
2.
Malaikat bukan manusia yang dimuliakan.
Matius 22:30, manusia dikatakan akan menjadi seperti malaikat tetapi tidak akan
menjadi malaikat. Alkitab mencatat lebih rendah sedikit dari malaikat, tetapi
kemudian akan menjadi tinggi dari pada malaikat (Maz. 8:6; Ibrani 2:7) bahkan
orang-orang percaya disebutkan oleh firman Tuhan suatu saat nanti akan
menghakimi malaikat (1 Korintus 6:3). Malaikat tidak pernah akan dimuliakan,
seperti halnya nasib orang-orang percaya yang akan dimuliakan Allah. manusialah
satu-satunya ciptaan yang disebutkan Alkitab sebagai mahkota ciptaan karena
telah diciptakan.
3.
Malaikat merupakan suatu kelompok, bukan
suatu bangsa. Para malaikat disebut Alkitab sebagai bala tentara Allah (lukas
2:13).
4.
Bila berdosa sifatnya kekal (tidak ada
pengampunan).
Malaikat
diciptakan dengan akal budi, kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. Akal budi
itu membuat mereka mempunyai pilihan, yaitu bisa mentaati Allah atau tidak
mentaati-Nya . Alkitab mencatat adanya malaikat-malaikat yang dihukum Allah.
2
Petrus 2:4 (Malaikat dilemparkan kedalam neraka dan gua yang gelap dan
menyimpan mereka sampai pada hari penghakiman). Yudas 1:6 (Allah menahan
malaikat), Ayub 4:18 (hamba-hamba-Nya tidak dipercayai-Nya, para malaikat-Nya
pun didapati-Nya tersesat).
5.
Malaikat itu lebih kuat dan lebih pandai
dari pada manusia.
2
Petrus 2:11. Contoh kekuatan dan keperkasaan malaikat terlihat ketika
melepaskan para rasul dari penjara (KPR 5:19;12:7).
Langganan:
Postingan (Atom)