Kamis, 07 November 2013

Karya Ryan Frinandoe, Bicara Cinta Yang Berasal Dari Hati Nurani



Semua orang bisa mengatakan “aku cinta kamu”, aku sayang kamu, aku...aku...aku dan aku. Kalimat yang gampang terucap ini sudah kerap kali saya dengar bahkan saya pun sendiri pernah mengucapkan dan menyatakannya kepada banyak mantan pacar. Semua orang punya hak untuk mengatakannya kepada siapa yang ia kehendaki dan yang diinginkan, semua orang baik pria dan wanita seperti sudah wajib mengatakannya apabila cinta sudah melanda diri, menghujani diri, memabukkan diri, dan membuai diri. Bicara cinta adalah bicara soal perasaan yang bergejolak dengan didorong oleh suatu keinginan untuk memiliki, bicara tentang cinta adalah bicara soal kehendak untuk mencintai seseorang. Langkah awal cinta dimulai adalah memiliki rasa suka, kedua memberi perhatian, ketiga memberi pengorbanan, ke empat muncul rasa sayang, ke lima muncul rasa mengasihi, ke enam muncul rasa ingin memiliki, ke tujuh berharap, ke delapan timbulnya pengharapan, dan paling terakhir dari semuanya ini ada satu pokok yang begitu dalamnya luar biasa, begitu dasyat, tidak terselami oleh pikiran, sulit digambarkan, sulit dilukiskan, sulit diartikan secara dalam dan mendetail apakah dia? Yaitu “Cinta”.
          Cinta seringkali muncul setiap kedua pria dan wanita sedang menjalani hubungan, cinta juga sering muncul sebelum menjalani hubungan pria dan wanita. Namun banyak orang, banyak mereka yang mengungkapkannya tidak mengerti cinta, tidak memahami cinta, tidak dapat menjalani cinta, tidak melaksanakan cinta dengan benar dan baik. Dan hal yang penting yang sedang saya bahas disini, manusia baik pria dan wanita tidak banyak yang mengetahui dari mana cinta itu berasal. Pandangan saya mengenai cinta dan sesuai dengan segala pengalaman yang saya lalui adalah cinta itu berasal dari hati nurani seseorang untuk diberikan kepada siapa orang yang sedang dicintai. Cinta itu kasih dan kasih adalah cinta. Cinta kasih tetap berada pada tingkat yang tinggi dari segala macam jenis cinta. Cinta itu terlalu banyak macam dan polanya, cinta bersyarat misalnya, cinta karena..., cinta karena hawa nafsu, cinta karena ingin memanfaatkan. Nah jenis-jenis cinta semacam ini tidak dapat bertahan lama sampai kepada kematian untuk menghembus nafas terakhir tetapi akan putus dan berhenti dalam jalannya waktu. Cinta yang murni dan sejati adalah cinta yang berasal dari hati nurani. Dalam hati nurani ada kesabaran, ketabahan, kesungguhan, kesetiaan, kemanisan, ketulusan, kelembutan, kasih sayang, dan cinta yang berasal dari hati nurani adalah jenis cinta tanpa syarat atau kasih tanpa syarat yang menuntut, maksudnya adalah menerima apa adanya baik kekurangan dan kelebihan diri orang yang sedang dicintai. Nah cinta semacam inilah yang dapat bertahan hingga nafas terakhir dan penuh pengharapan keduanya untuk bertemu lagi di dalam Kerajaan Allah. Pertanyaan saya siapakah yang menciptakan cinta? Saya akan menjawab Tuhan Allah atau yang sering disebut Allah Bapa. Cinta kepada manusia pernah dilakukan Yesus Kristus dikayu salib sebagai bukti cinta yang begitu dalam yang tak dapat digambarkan dan dilukiskan dengan apapun itulah cinta.  Belum ada cinta kasih yang seperti Yesus, banyak jihad mengatakan “saya mencintai Tuhan saya dan saya akan mati untuk Tuhan saya” tapi saya bukan demikian sebagai orang Kristen, saya akan mati karena saya mencintai Tuhan, tetapi saya bukan mati untuk Tuhan, cinta saya dengan cinta-Nya berbeda. Apa bedanya,? Cinta saya terbatas dan Dia melihat seberapa dalam cinta saya kepada-Nya. Saya melihat Tuhan saya mati untuk saya karena segala dosa saya dan Dia tidak menghendaki saya dihukum maka Ia memberi diri untuk mati bagi saya. Inilah cinta, cinta itu Tuhan taruh dalam hati nurani manusia agar manusia juga bisa mencintai Dia. Jikalau ada orang yang mencintai dengan syarat ini dan itu berarti cintanya tidak beres, tetapi apabila orang itu mencintai tanpa menuntut syarat dan malah ia berkorban menderita demi memberikan yang terbaik untuk seorang kekasih berarti itulah cinta yang beres, murni, tulus dan sejati. Oleh sebab itu hendaklah anda mencintai dia yang anda sayang dengan cinta yang berasal dari hati nurani bukan dari sekedar hati, hati dan hati, tetapi dengan hati nurani. Cinta yang dari hati nurani memberikkan cahaya kepada hatinya. Jika selama ini cinta mu sebatas ucapan dan keinginan semata tanpa tujuan yang jelas dan tanpa mengerti apa-apa tentang cinta, hari ini dalam karya saya ini anda dapat mengenal apa itu cinta dan berasal dari manakah cinta. Pesan saya cintailah dia dengan hati nurani mu.
Sekian dan terimakasih.

Selasa, 05 November 2013

“Belajar Strategi Misi Dari Rasul Paulus” oleh: Rian Frinandoe



“Belajar Strategi Misi Dari Rasul Paulus”

Pendahuluan.
            Misi Allah dalam kehidupan orang Kristen adalah sebagai dasar bagaimana orang Kristen harus memiliki konsep misi untuk melaksanakan Amanat Agung dari Sang Guru Agung. Misi Allah untuk menyelamatkan manusia harus disadari oleh kehidupan orang Kristen, sebab misi bukan saja tugas yang dibebankan Tuhan Allah kepada pendeta-pendeta saja, tetapi misi Allah ini wajib serta juga mutlak yang harus dan harus dilaksanakan oleh orang Kristen atau jemaat. Bila orang Kristen yang mempunyai konsep “misi hanya dijalankan oleh pendeta-pendeta, penginjil-penginjil” saja ini adalah konsep yang salah. Konsep yang benar adalah orang yang sudah menjadi Kristen harus melaksanakan misi untuk memberitakan Injil Kristus dan membawa orang yang belum mengenal Kristus untuk dapat mengenal Kristus, dengan jalan mengenal Kristus maka hidupnya diselamatkan dan misi Allah sedang terlaksana.
            Kita akan mempelajari beberapa strategi yang diajarkan Alkitab mengenai pelaksanaan misi, baik sebelum melaksanakannya dan sesudah melaksanakannya. Dalam kesempatan ini saya akan mengajak kita untuk belajar dari seorang rasul yang mula-mulanya bukan seorang Kristen dan ia adalah seorang dosen teologia PL yang juga pernah membantai dan menganiaya orang Kristen mula-mula yaitu dia adalah rasul Paulus. Dia bertobat ketika rencananya untuk menganiaya orang Kristen dengan membawa surat yang sah dari pemerintahnya, dan ketika sewaktu dalam perjalanannya ia dipertemukan dan diperhadapkan dengan penglihatan yang sangat luar biasa yang sifatnya paradoks, sehingga dalam keadaan yang demikian ia harus takluk kepada Injil dan Tuhan Yesus berbicara kepada Paulus. Tuhan Yesus memakai Paulus untuk memberitakan Injil keseluruh dunia zaman itu hingga ia sampai kepada pusat pemerintahan seluruh dunia yaitu kota Roma yang adalah ibu kota Romawi, dan Paulus melakukan misi dari Tuhan Yesus kepada orang-orang yang ada di Roma.
            Dalam makalah riset ini saya menyajikan kepada kita tentang bagaimana strategi misi yang akan kita pelajari dari Paulus, yaitu sebagai berikut.
1.      Paulus Yakin Bahwa Yesus Mesias.
Sebenarnya Paulus tidak mengetahui rencana Tuhan Yesus didalam hidupnya, Paulus juga tidak mengetahui akan jadi apa dia pada akhir hidupnya, yang ia tahu hanyalah melayani Tuhan Allah (YHWH) dan belajar Taurat serajin mungkin hingga untuk mengajar orang Yahudi lainnya. Paulus yang mempunyai konsep Yesus bukanlah Mesias, kalau Mesias adalah Raja yang akan menang, dan bukan digantung dikayu salib dan dipermalukan oleh orang banyak. Justru Yesus yang disalib adalah karena Ia menjadi orang yang terkutuk dari segala manusia. Konsep semacam ini adalah pikiran Paulus dengan belajar Taurat. Dia adalah yang jenius dalam belajar Taurat, kira-kira waktu Tuhan Yesus disalibkan ia sedang menjalani proses belajar saja yang gurunya adalah seorang Profesor terkemukan zaman itu yaitu rabi Gamaliel. Paulus bertemu Yesus Kristus dan ia menyebut dirinya rasul sebab ia pernah bertemu dengan Yesus Kristus. Ketika bertemu Tuhan Paulus mempunyai pandangan yang begitu sangat berbeda, semua apa yang dia pelajari dalam PL kini diubah oleh pertemuannya dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak bertanya kepadanya: “Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku?”, Paulus kembali bertanya: “Siapakah Engkau Tuhan?”, sahut Yesus: “Akulah Yesus yang engkau aniaya itu”. Dialog antara Yesus dan Paulus adalah sesuatu yang luar biasa, Tuhan Yesus tidak tanya kepada Paulus mengapa Paulus belajar Taurat tetapi tidak tahu Tuhan Yesus adalah Tuhan, tetapi Tuhan Yesus bertanya mengapa Paulus menganiaya Dia, setelah jelas jawaban yang Tuhan Yesus berikan, semua konsep Paulus yang salah telah berubah. Namun konsep pelajaran kitab Taurat tidak hilang dari kepalanya, justru Taurat itu juga akan menolong dia untuk menyingkapkan rahasia Allah tentang Yesus Kristus yang adalah Mesias. Jadi hal pertama adalah Paulus yakin bahwa Yesus adalah Mesias, dengan keyakinan semacam ini ia mempunyai keberanian untuk memperbaharui konsep pemikiran orang Yahudi, (KPR 9:20-22).

2.      Paulus Tidak Dengan Sendirinya Memberitakan Injil Kristus.
Tuhan Yesus yang mengutus Paulus untuk menjalankan misi-Nya, Tuhan menetapkan seorang teman bagi Paulus untuk memberitakan Injil, sebelum-sebelumnya Paulus pernah bergabung dengan orang-orang Kristen, dan disanalah ia meyakinkan dirinya sungguh-sungguh bertobat. Teman Paulus memberitakan Injil adalah Barnabas dalam Alkitab KPR 11:24-25, dia mencari Paulus untuk bertemu dan membawa Paulus ke Antiokhia memberitakan Injil, nah dalam hal ini juga kemungkinan Paulus telah belajar dari Barnabas memberitakan Injil. Paulus dan Barnabas menjalankan misi Kristus bukan saja menginjil lalu meninggalkannya, tetapi juga mengajarkan mereka yang bertobat untuk mengenal Kristus selama satu tahun lamanya. Kita memang tidak mampu mengandalkan kekuatan kita sendiri melakukan tugas misi Allah, kita juga harus mempunyai teman seperti Paulus dan Barnabas. Jadi belajar dari strategi Paulus ini kita tidak boleh sendiri untuk mengerjakan tugas misi, kita juga harus memiliki teman. Allah mengetahui apa yang menjadi kekurangan kita, Allah mengetahui apa yang menjadi masalah kita dalam menghadapi segala perkara. Dalam hal ini juga Allah bisa menggunakan siapa saja untuk menolong kita agar tidak merasa sendir dalam mengabarkan Injil untuk tugas misi Allah.

3.      Paulus Berdoa dan Berpuasa.
Sebelum perjalanan misi dilanjutkan keluar dari Antiokhia, Paulus dan Barnabas berdoa dan berpuasa, tindakan keduanya ini sangat siap sedia, tindakan keduanya ini adalah suatu keseriusan untuk menjalankan misi Allah dan dengan tindakan semacam ini Roh Kudus berkata kepada mereka bahwa sudah saatnya Paulus dan Barnabas diutus KPR 13:1-3. Berdoa dan berpuasa adalah hal yang sangat Alkitabiah, jadi sebelum memberitakan Injil melaksanakan misi Allah ada baiknya kita harus berdoa dan berpuasa. Dalam doa kita sedang berbicara dan memohon kepada Allah agar dalam segala tugas pekerjaan misi dapat ditolong oleh Roh Kudus, kemudia berpuasa adalah dimana diri rela berkorban untuk menahan setiap keinginan demi ingin mengetahui rencana Allah dalam kehidupan kita.

4.      Paulus Mempunyai Keberanian Mengatakan Kebenaran.
Dalam perjalanan misi Paulus dan Barnabas memberitakan Injil ke suatu Pulau yaitu Siprus, disana mereka memberitakan Injil kepada seorang gubernur pulau itu. Gubernur itu berniat mendengarkan Injil yang diajarkan keduanya. Alkitab mengatakan gubernur ini adalah orang yang pintar/cerdas. Jadi pikir saya gubernur ini bukan orang yang sembarangan. Paulus dan Barnabas mengajarkan Firman Allah kepadanya, namun ada tantangan pada keduanya yaitu ada seorang penyihir dan Alkitab mencatat bahwa bukan sekedar penyihir tetapi juga nabi palsu yang sedang menghalangi pemberitaan Injil. Karena hal itu terjadi pada keduanya, maka Paulus berkata atas pimpinan Roh Kudus, dan apa yang dikatakan rasul Paulus terjadi benar-benar penyihir itu akhirnya buta dan gubernur semakin percya akan ajaran Tuhan. Strategi ini sangat luar biasa dimana Paulus dengan berani berhadapan dengan gubernur yang cerdas, kemungkinan besar orang yang juga rumit pikirannya masuk Kristen ini kini ia mau bertobat dan percaya Injil ajaran Tuhan. Mengerjakan misi memerlukan pimpinan Roh Kudus, sehingga dalam pimpinan itu Roh Kudus menyatakan kebenaran-Nya, dan akibat dari yang mengandalkan Roh Kudus maka keberanian muncul dalam diri kita. Dengan keberanian itulah Allah memakai hamba-Nya untuk menyampaikan Injil.
Dalam segala pemberitaannya Paulus menjadi orang yang berani dan tidak punya rasa takut untuk menunaikan misi Allah untuk menyelamatkan manusia.

5.      Setelah Mengajar Paulus Memuridkan.
Suatu pekerjaan yang tidak dapat dilupakan Paulus setelah memberitakan Injil adalah ia mau dan bersedia mengajar orang yang bertobat untuk belajar tentang Kristus. Ketetapan dari Amanat Agung adalah setiap orang yang bertobat harus diajarkan setelah mendengar pemberiataan Injil. Dalam hal ini kita harus secara sadar bahwa misi tidak mengajarkan kita mengabarkan Injil lalu ditinggalkan, tetapi harus memuridkan. Paulus adalah rasul yang memiliki beberapa murid yang dapat ia percayakan untuk membantu dia dalam pelayanan misi Allah, misalnya seperti Timotius, Epafras, Filemon, bahkan masih banyak diantaranya. Paulus adalah orang yang tidak sembarangan mengajarkan murid, dia betul-betul menyiapkan generasi yang mampu untuk menolong dia dalam tugas misinya.
Apabila kita menjalankan misi Allah dan terjun dalam satu daerah dan beberapa daerah yang lain, kita jangan lupa dengan yang namanya pemuridan. Setelah dimuridkan kita harus mengangkat seseorang untuk dijadikan pemimpin atas murid-murid itu agar mereka bisa terkontrolisasi dan berada dalam pembinaan. Jika kita terus berada didaerah itu saja maka daerah-daerah yang belum mendengar Injil tidak dapat mengalami pelayanan misi Allah, dan mereka rugi.
6.      Paulus Tidak Merasa Berhutang Injil Bagi Mereka Yang Belum Menerima Injil.
Perasaan Paulus yang begitu mendalam dan tidak ada diantara rasul-rasul lainnya adalah dimana ungkapan ini ia lontarkan akibat dari perasaannya yang dalam karena mencintai Injil Kristus. Dia merasa berhutang Injil bagi mereka yang belum mendengarkan Injil. Ungkapan ini tidak ada dalam kitab-kitab lain selain tulisannya dalam kitab Roma 1:13-14, suatu perasaan yang begitu dalam, dan karena perasaan seperti inilah yang mendorong dia untuk memberitakan Injil serta menjalan misi Allah. Langkah-langkah melakukan tugas misi juga bukan saja berasal dari buah pikiran saja, tetapi juga memerlukan dimana pikiran harus tunduk dengan hati nurani yang merasakan betapa pentingnya misi. Dari dalam hati nurani maka timbullah perasaan yang mengendalikan pikiran. Gerakan hati Paulus ini mengajarkan kepada kita bahwa melakukan misi bukan saja karena pikiran dan anggota tubuh yang semangat untuk menjalankan misi Allah, namun juga memerlukan gerakan suara hati nurani yang paling dalam.
Misi Allah yang dilakukan Paulus selama hidupnya betul-betul berdampak hingga saat ini, dan banyak orang Kristen belajar dari kepemimpinan Paulus dalam melakukan misi pekerjaan Allah ini. Baiklah kita sebagai orang Kristen yang berjiwa misi dan merasa diri berhutang Injil kepada bangsa-bangsa, suku-suku, kita harus belajar dari langkah-langkah strategi Paulus ini. Semuanya itu harus disadari dan dilandasi oleh firman Allah, dalam segala pengajaran hendaklah kita berhati-hati, sebab dampaknya besar, sebaliknya bila pengajaran kita salah maka dampaknya juga bersifat negatif yang besar dan sangat merugikan. Setiap pemberitaan dan pengajaran harus dasari oleh pimpinan Roh Kudus. Terimakasih Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 03 November 2013

Oleh Ryan Frinandoe, Kristus sebagai dasar kehidupan Kristen Kolose 2:6-8.



Pendahuluan
            Agama tetapi tidak  punya Tuhan adalah agama yang tidak beres, agama jika salah ber-Tuhan adalah juga tidak beres, semua kehidupan ini jikalau tanpa Tuhan semuanya tidak akan beres. Jikalau ber-Tuhan tetapi tidak membicarakan iman adalah Tuhan itu juga tidak beres, dan tidak dapat disebut Tuhan apabila Tuhan sendiri tidak memberikan iman kepada umat-Nya. Tetapi Tuhan yang beres dan Tuhan yang murni adalah Tuhan yang selalu menjadi penopang atas setiap umat-Nya. Dia adalah dasar kehidupan, Dia juga adalah fondasi yang teguh dan tak tergoyahkan. Semua agama punya Tuhan? Tidak!!!, contohnya Atheis. Atheis menjadikan Atheis itu sebagai agaman mereka, mereka menjadi pikiran mereka untuk menjadi ilah bagi mereka, sebenarnya mereka punya konsep Tuhan Allah, tetapi mereka menolak, hati dan pikiran mereka saling bertolak belakang. Hati mereka mengatakan Tuhan itu ada, namun pikirannya berkata tidak ada...tidak ada!!! Mereka menekan jiwanya sendiri dan menekan hati nuraninya yang murni untuk tidak percaya kepada Allah. Mereka tidak sejahtera, mereka kehilangan Allah dalam pikiran mereka namun dihati mereka, konsep Allah itu tetap ada. Jadi kesimpulannya Atheis menolak keberadaan Tuhan, dan rasio mereka menjadi dasar bagi kehidupan mereka. Lalu bagaimanakah dengan Kekristenan, masihkah Yesus Kristus yang pernah disalibkan menjadi Tuhan dalam kehidupan orang Kristen, atau Yesus bukanlah menjadi yang utama dari hidup ini, manakah yang terlebih dahulu menjadi yang utama? Yesus Kristus atau rasio, rasio atau Yesus Kristus?
            Tema yang akan dibahas adalah Kristus sebagai dasar kehidupan Kristen, bagaimanakah supaya orang Kristen tetap menjadikan Kristus sebagai dasar kehidupan Kristen? Kita akan membahas dan mencoba untuk mengerti beberapa point dari pembahasan khotbah dari kitab Kolose ini.

1.      Harus tetap tinggal didalam Kristus, (ayat 6)
Jemaat di Kolose ini adalah jemaat yang sedang mengalami ancaman dari ajaran-ajaran palsu, pada bagian point ketiga kita akan membahasnya ajaran apakah yang mengancam mereka. Paulus menuliskan surat untuk jemaat yang ada di Kolose sekitar pada tahun 60 M. Dalam kondisi saat Paulus dipenjaralah Paulus menulisnya kepada jemaat yang ada di Kolose. Kehidupan jemaat di Kolose telah membawa kegembiraan bagi Paulus, namun Paulus tidak selamannya bahagia, sebab ada ancaman ajaran-ajaran yang sesat mulai masuk dan mempengaruhi jemaat di Kolose. Berita yang disampaikan teman sekerjanya yaitu Epafras mengenai jemaat di Kolose ini membuat Paulus menuliskan surat ini kepada jemaat dan akan dibacakan oleh Epafras. Ketika Paulus memberitakan Injil di Kolose, keadaan jemaat ini baik-baik saja, namun ketika Paulus mulai pergi dan sampai akhirnya ia ditahan dipenjara Roma, maka mulailah ajaran-ajaran lain masuk kepada jemaat itu. Paulus berkata dalam ayat ini “kamu telah menerima Kristus Yesus” dalam kalimat ini jemaat diingatkan kembali bahwa mereka pernah menerima Yesus sebagai Tuhan. Seolah-olah ada kalimat yang tersembunyi dalam perkataan Paulus begini “oleh sebab itu janganlah ada orang lain yang kamu terima selain Yesus Kristus”. Maka muncullah kalimat selanjutnya “karena itu hendaklah kamu tetap didalam Kristus.” Jadi Paulus menginginkan kepada jemaat Yesus Kristus tetap menjadi Tuhan dan Juruselamat bagi mereka, selain Yesus tidak ada Tuhan yang lain, hanya ajaran Yesus yang benar, tidak ada ajaran yang lain.
Bagaimanakah dengan kita saat ini? Masihkah kita tinggal dalam Kristus atau kita tinggal dalam Dia namun tidak mengerti ajaran-Nya, atau kita tinggal didalam Dia tetapi tidak mengenal Dia seperti Dia mengenal kita? Dalam nama Tuhan Yesus saya berkata kepada sekaliannya “Yesus Kristus lebih dari apa yang ada dalam konsep mu” Dia bukan saja penyembuh dari sakit penyakit, Dia bukan saja sumber moral dan hikmat, bahkan sumber berkat, bertobatlah kita sekaliannya jika punya konsep sebatas ini. Ketahuilah Yesus Kristus adalah Kristus yang ingin umat-Nya mengenal Dia, tahu penderitaan, tahu pengorbanan-Nya, dan mau turut mengambil bagian memikul salib selama hidup sementara hidup yang kekal menanti. Apakah yang terpenting hidup di dunia ini? Tidak ada lain selain dari pada melakukan kehendak Allah Bapa yaitu Yesus Kristus didalam sejarah. Yesus Kristus pernah berkata “tinggallah didalam Aku, maka Aku pun akan tinggal didalam kamu.” Kalimat ini begtu luar biasa, lain dari pada yang lain, tidak ada tokoh-tokoh agama, para filsafat yang terkenal, para seniman dan budaya, yang berani mengatakan kalimat semacam ini, dan belum ada yang pernah berkata demikian kecuali Dia Yesus Kristus. Perkataan yang begitu Agung keluar dari mulut Tuhan. Jika hidup ini diluar Yesus Kristu apa jadinya? Hidup akan kacau, orang Kristen kacau balau tidak karuan, ikut sana dan ikut sini entah harus bagaimana. Ikut Yesus maka kita akan hidup, hidup dalam apa? Kebenaran, kebenaran apa? Kebenarana yang sejati, siapa kebenaran yang sejati itu? Dialah Kristus Yesus Tuhan kita. Orang Kristen yang sejati akan tetap tinggal didalam Tuhan, jika ia tinggal didalam Tuhan maka tidak akan mungkin imannya goyah dan takkan mungkin ia akan meninggalkan Tuhan Yesus Kristus sekalipun ia miskin dan hidup menderita, sebab ia akan mengingat bahwa Yesus Kristus pernah menderita karena dosa manusia. Inilah yang namanya tinggal dan tetap tinggal dalam Tuhan Yesus Kristus sampai kekekalan. Amin point pertama.

2.      Berakar dan dibangun didalam Kristus, (ayat 7)
Disini kita akan membicarakan dua topik lagi yaitu berakar dan dibangun.Berakar yang dimaksudkan Paulus adalah seperti akar pohon yang begitu kuat hingga menimbulkan hasil yang begitu maksimal dan pohon itu tidak akan pernah ada jikalau tanpa akar, siapakah pusat dan dasar dari akar itu? ialah Kristus. Supaya orang Kristen berakar serta bertumbuh maka hidup kita sebagai orang Kristen harus memberi diri dan menyerahkan diri didalam anugerah Tuhan. Didalam anugerah Tuhan kita akan menerima yang namanya firman dan didalam firman itu terdapat unsur-unsur yang akan membuat kita menjadi berakar, ketika mulai berakar maka hidup kita akan menghasilkan pertumbuhan. Bagaimana caranya? Melakukan dan mempraktekkan suara dari firman Tuhan Allah, dari hasil kita bertindaklah orang dapat melihat akar itu dan akar itu akan dipertanyakan akar dari mana? Jawabannya ialah akar itu ialah Yesus Kristus dan Dia membuat aku hidup. Demikian pemikiran orang Kristen yang sebenarnya. Bagaimana hidup berakar, hanya 1 “melakukan firman Allah yang hidup”.
Dibangun dalam Kristus. Iman Kekristenan kita tidak akan bisa kokoh jikalau tidak dibangun atas dasar Tuhan Yesus. Yang dibangun maksud Paulus disini ialah pribadi kita dan iman kita. Dasar dari bangunan itu ialah Kristus dan Kristus menjadi pusat kehidupan Kekristenan. Kita harus bangun? Kita harus dibangun, bangunlah diri dalam Kristus, maka kokohlah iman dan takkan goncang oleh apapun sebab Yesus Kristus adalah dasar bagi bangunnya iman kita. Dari dua hal ini hanya 1 kunci dasarnya agar kita berakar dan dibangun didalam Kristus yaitu melakukan firman Tuhan dengan setia.

3.      Berhati-hati dalam menerima setiap pengajaran, (ayat 8)
Sebenarnya dalam hati Paulus ada ketakutan, dalam diri Paulus ada rasa kekuatiran, sebab ia tidak mau jemaat di Kolose ini meneriman pengajaran-pengajaran lain selain dari ajaran Kristus. Pada zaman Yunani Kuno, terkenal yang namanya dengan pendidikan filsafat dan bahkan sampai hari ini seluruh dunia dipengaruhi oleh kebudayaan pendidikan Yunani. Ajaran-ajaran Yunani atau orang Greek ini berbeda-beda dengan apa yang diajarkan Paulus tentang Kristus. Di Kolose sedang tersebar yang namanya ajaran Gnostik, ditambah lagi dengan adanya filsafat seorang filsuf terkenal zaman itu yang bernama Plato, sebelum Yesus datang ke dunia ini melakukan misi-Nya Plato sudah ada dan ia mengajar dan punya banyak murid. Filsafatnya ini terkenal hanya ada 3 bunyinya yang paling berpengaruh yaitu:
a.       Laki-laki dan perempuan itu sama.
b.      Hilangkan pernikahan.
c.       Seorang raja harus punya otak filsuf.
Ketiga bunyi filsafatnya ini berkembang hingga sampai ke Kolose, dan ditambah lagi aliran Gnostik dan mereka menyebut diri mereka Kristen padahal tidak sesuai dengan ajaran Kristen. Gnostik mempunyai filsafat yang berbunyi demikian “tubuh itu jahat dan roh itu baik, jadi Yesus itu punya tubuh yang jahat namun roh-Nya baik, materi itu jahat tapi jiwa itu baik.” Filsafat semacam ini membuat ajaran Paulus sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran filsafat. Oleh sebab itu Paulus berkata tegas agar jemaat Kolose berhati-hati untuk menerima setiap pengajaran. Oleh sebab mereka sudah menerima Kristus dan berakar serta dibangun dalam kristus, maka Paulus juga memberikan nasehat untuk mereka berhati-hati supaya mereka tidak terjerumus dalam ajaran-ajaran filsafat yang kosong. Paulus tidak mau jemaat di Kolose kacau balau pikiran dan tindak-tanduknya oleh sebab tadinya mereka sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat.
            Menuju zaman akhirn ini apa yang pernah dikatakan Tuhan Yesus memang benar akan hadir penyesat-penyesat didunia ini untuk menyesatkan orang percaya, banyak ajaran-ajaran dan nabi-nabi palsu yang akan muncul. Apa yang pernah katakan Tuhan memang terjadi dan sebelum itu terjadi Ia sudah mengatakannya kepada kita. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya berkata kepada sekaliannya berhati-hatilah dalam menerima ajaran, tidak semua pendeta itu baik ajarannya apa yang diajarkannya, semua berita yang didengar dari mimbar jemaat harus mengujinya dengan melihat firman dan maksud firman dan lebih teliti lagi dalam menelaah firman Tuhan. Sebab sudah banyak disekeliling kita hamba-hamba yang memberitakan firman jatuh dalam dosa dan dosa percabulan, perzinahan, dan hawa nafsu lainnya. Jikalau orang Kristen tidak berhati-hati maka ia pun akan terjerumus didalam kebinasaan. Hidup kita menjadi orang Kristen memang bukanlah hidup gampang dan sekedar percaya Yesus saja, tetapi kita harus percaya bukan dari mulut yang terucap, namun melalui ketelitian, perilaku, tindakan dan perbuatan untuk mengenal Allah lebih dalam dan sedalam-dalamnya. Orang Kristen harus belajar, belajar doktrin dengan benar, belajar sejarah dengan benar, belajar Alkitab dengan baik dan teliti. Maka tidak dapat ajaran-ajaran sembarangan masuk dalam otak dan hati ketika kita sudah belajar dengan tuntas firman Allah. Kristus sebagai dasar bagi kehidupan Kristen dengan 3 aspek yang kita pelajari tentang bagaimana kita menjadikan Dia sebagai dasar kehidupan Kristen yaitu:
a.      Harus tetap tinggal didalam Kristus.
b.      Berakar dan dibangun didalam Kristus.
c.       Berhati-hati dalam menerima setiap pengajaran.

“Jadikan Yesus sebagai dasar kehidupan Kristen, maka kita akan hidup dalam damai sejahtera.”


Amin Firman Tuhan Semesta Alam.

Oleh Ryan, Mengapa Bukan Malaikat yang Mengabarkan Injil?



Tidak etis bagi saya menjelaskan topik ini jikalau saya hanya langsung menjawab tanpa dasar Alkitab yang jelas. Oleh sebab itu biar sedikit kita melihat fakta penting dalam Alkitab. Malaikat diciptakan untuk melayani pekerjaan Allah, apabila Allah memerintahkan malaikat melakukan sesuatu maka malaikat harus melakukan kehendak Allah. Seperti halnya Malaikat Gabriel diperintahkan memberitahukan kepada Maria tentang rahmat Tuhan datang melalui dia maka akan lahir seorang Anak berasal dari Roh Kudus. Malaikat hanya bertugas untuk melayani Allah dan malaikat bertindak saat ada perintah dari Allah bila tidak ada dia akan diam. Dalam Alkitab Allah tidak pernah membicarakan kepada malaikat tentang Injil dan rahasia Injil, jadi bagaimana mungkin orang dapat berkata malaikat juga memberitakan Injil. Saya tidak menganjurkan anda untuk memiliki penafsiran yang salah dalam memahami malaikat dan tugasnya, tetapi saya menganjurkan anda untuk menelaah kitab dengan baik agar dapat sejalan dengan kebenaran yang sejati dan yang sesungguhnya apa kata firman Allah.
Mengapa bukan malaikat yang mengabarkan Injil? Jawaban saya berdasarkan Teologi Reformed adalah karena malaikat tidak mengalami Injil, oleh sebab tidak mengalami Injil maka ia tidak dapat memberitakan Injil. Injil hanya ditugaskan bagi manusia yang mengalami Injil. Jadi apakah dapat orang yang belum mengalami Injil memberitakan Injil? Jawabannya tidak akan dapat, mengapa? Karena tanpa mengalami bagaimana dapat ia menjelaskannya. Selamanya malaikat tidak akan pernah memberitakan Injil, sebab malaikat sekali jatuh dalam dosa tidak dapat diampuni lagi dan ia akan menjadi setan selamanya. Alkitab tidak mencatat lebih jelas disini bahwa ia serupa dan segambar dengan Allah, tetapi hanya manusia yang mendapatkan hak istimewa segambar dan serupa dengan Allah. Mungkinkah malaikat memiliki gambaran Allah? mungkin saja, karena malaikat adalah roh adanya. Manusia jatuh ke dalam dosa, maka Allah menurunkan Injil supaya yang berdosa bisa kudus kembali dihadapan Allah dan mendapatkan jalan keselamatan untuk bisa berhubungan kembali dengan Allah. Maka Injil pusatnya adalah Kristus, apakah Injil hanya ada di PB saja? Tidak. Injil sudah ada agar bangsa bertobat mengenal Allah, Injil pernah diberitakan kepada orang Niniwe, melalui nabi Yunus. Namun pusatnya adalah percaya kepada Allah bukan kepada nabi Yunus. Kemudian Injil dalam PB pribadi Allah itu turun dalam wujud manusia yaitu Yesus Kristus dan Injil itu adalah Yesus Kristus. Jadi malaikat tidak punya hak untuk mengabarkan Injil karena mereka tidak pernah mengalami Injil, karena ia tidak serupa dan segambar dengan Allah dan kalau ia berdosa maka ia tidak punya kesempatan bertobat seperti manusia. Inilah sebab malaikat tidak dapat mengabarkan Injil. Saya pikir orang Kristen harus belajar lebih banyak mengenal firman Allah, sebab ada ajaran-ajaran yang mulai menyeleweng dalam pendefinisian malaikat dan Yesus Kristus, dan anda dapat terjerumus jikalau tidak belajar dan mengerti firman Tuhan. Injil itu dialami manusia maka manusia memberikan pengalaman mengalami Injil kepada manusia-manusia yang lain bagi mereka yang belum mengalami. Firman Tuhan beritakan Injil kepada segala mahkluk, maksudnya bukan kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan melainkan kepada manusia yang juga adalah mahkluk hidup. Disambungkan lagi dengan kalimat yang percaya akan diselamatkan dan yang tidak percaya akan dihukum (Markus 16:15-16).